Penutup: Antara Pilihan dan Warisan
Ekosistem Raja Ampat hanya bisa menopang nilai US$ 52,5 juta per tahun dari pariwisata dan jauh lebih besar dari perikanan serta jasa lingkungan, selama ia tetap utuh. Ia hanya akan tetap utuh jika tata kelola menempatkan keberlanjutan sebagai prioritas, bukan sebagai kompromi terakhir setelah semua kepentingan lain terpenuhi.
Baca Juga:
Gelombang Panas Eropa dan Papua-Raja Ampat sebagai Benteng Terakhir Iklim Dunia
Masyarakat adat yang selama berabad-abad menjaga Raja Ampat dengan kearifan Sasi-nya telah membuktikan bahwa keseimbangan antara manusia dan alam bukan utopia, ia adalah sejarah yang bisa diulang, jika kita mau belajar. Mereka adalah penjaga pertama. Sudah seharusnya mereka juga menjadi penerima manfaat utama.
Raja Ampat layak dikelola sebagaimana martabatnya sebagai warisan dunia: dengan masyarakat adatnya sebagai tuan rumah yang dihormati, bukan tamu di tanah leluhurnya sendiri; dengan setiap keputusan investasi diukur dari seberapa lama ia menjaga, bukan seberapa cepat ia menghasilkan; dan dengan keadilan yang selama ini dinantikan, akhirnya tiba bukan karena terpaksa oleh tekanan publik, melainkan karena itulah yang benar.
|Sumber Berita /Siaran Pers: INSTITUT USBA
Baca Juga:
Institut USBA Gerakkan Warga Tiga Kampung di Distrik Ayau Tanam 1.020 Bibit Mangrove, Atasi Banjir Pasang dan Jaga Ekosistem Pesisir
|Penulis: Endi Mambrasar
[Redaktur: Hotbert Purba]