Penutup: Antara Pilihan dan Warisan
Ekosistem Raja Ampat hanya bisa menopang nilai US$ 52,5 juta per tahun dari pariwisata dan jauh lebih besar dari perikanan serta jasa lingkungan, selama ia tetap utuh. Ia hanya akan tetap utuh jika tata kelola menempatkan keberlanjutan sebagai prioritas, bukan sebagai kompromi terakhir setelah semua kepentingan lain terpenuhi.
Baca Juga:
Institut USBA: Usulan Penanaman Kelapa Sawit Skala Besar di Papua adalah Jalan Mundur yang Membahayakan
Masyarakat adat yang selama berabad-abad menjaga Raja Ampat dengan kearifan Sasi-nya telah membuktikan bahwa keseimbangan antara manusia dan alam bukan utopia, ia adalah sejarah yang bisa diulang, jika kita mau belajar. Mereka adalah penjaga pertama. Sudah seharusnya mereka juga menjadi penerima manfaat utama.
Raja Ampat layak dikelola sebagaimana martabatnya sebagai warisan dunia: dengan masyarakat adatnya sebagai tuan rumah yang dihormati, bukan tamu di tanah leluhurnya sendiri; dengan setiap keputusan investasi diukur dari seberapa lama ia menjaga, bukan seberapa cepat ia menghasilkan; dan dengan keadilan yang selama ini dinantikan, akhirnya tiba bukan karena terpaksa oleh tekanan publik, melainkan karena itulah yang benar.
|Sumber Berita /Siaran Pers: INSTITUT USBA
Baca Juga:
Banjir dan Longsor di Pulau Sumatera, Peringatan Keras Bagi Papua untuk Menghindari Krisis Ekologis Serupa
|Penulis: Endi Mambrasar
[Redaktur: Hotbert Purba]