PAPUA-BARAT.WAHANANEWS.CO, Sorong – Masyarakat adat Raja Ampat telah hidup, menjaga, dan mewariskan tanah, laut, hutan, serta seluruh ruang hidupnya secara turun-temurun. Tanah adat bukan sekadar ruang geografis, melainkan sumber kehidupan, identitas, budaya, dan warisan leluhur yang harus dijaga bersama bagi generasi mendatang.
Di tengah berbagai tantangan mulai dari tekanan terhadap wilayah adat, perubahan arah pembangunan, hingga ancaman keberlanjutan lingkungan, Sekolah Kader Masyarakat Adat Raja Ampat Tahun 2026 diselenggarakan. Mengusung semangat "Belajar, Bersatu, Bergerak", kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran, kaderisasi, dan konsolidasi untuk memperkuat kepemimpinan generasi muda serta merumuskan arah perjuangan bersama.
Baca Juga:
BLUD Raja Ampat dan Institut USBA Perkuat Kelembagaan Masyarakat Adat untuk Konservasi Berkelanjutan
Dokumen hasil Sekolah Kader Masyarakat Adat merupakan hasil awal proses tersebut. Bukan keputusan akhir, melainkan bahan konsolidasi yang akan dibawa kembali ke kampung, sub-suku, dan suku di seluruh Raja Ampat untuk didiskusikan, diperkaya, dan disempurnakan melalui musyawarah adat.
Seluruh proses akan bermuara pada "HEYUL PELEI KORANU FYAK" atau Jumpa Akbar Masyarakat Adat Raja Ampat yang diagendakan Agustus 2026.
Forum ini menjadi momentum bersejarah mempertemukan seluruh elemen masyarakat adat dalam satu ruang musyawarah untuk memperkuat persatuan, menegaskan eksistensi, dan menyepakati arah perjuangan serta pembangunan yang berlandaskan nilai adat.
Baca Juga:
Sekolah Kader Adat: Membangun Sistem Regenerasi Penjaga Masa Depan Raja Ampat
"Kami berharap rumusan ini berkembang menjadi Deklarasi Bersama Masyarakat Adat Raja Ampat sebagai landasan moral, politik, dan strategis dalam memperjuangkan pengakuan, perlindungan, pemberdayaan, serta kepemimpinan masyarakat adat atas wilayahnya sendiri," demikian pernyataan peserta Sekolah Kader.
Arah Perjuangan Masyarakat Adat Raja Ampat.
Rumusan tersebut memuat poin - poin strategis, antara lain: