Menurut Charlie, tantangan yang dihadapi masyarakat adat semakin kompleks—mulai dari tekanan alih fungsi wilayah, perubahan sosial, hingga dampak perubahan iklim global. Oleh karena itu, regenerasi tidak bisa hanya berupa pelatihan sesaat, melainkan membutuhkan sistem pembelajaran berkelanjutan yang dipimpin sepenuhnya oleh masyarakat adat.
Kurikulum dan Nilai Dasar Kaderisasi
Baca Juga:
Gelombang Panas Eropa dan Papua-Raja Ampat sebagai Benteng Terakhir Iklim Dunia
Selama tiga hari kegiatan, peserta mendalami materi kepemimpinan adat, kelembagaan organisasi, hak-hak konstitusional masyarakat adat, advokasi kebijakan, penyelesaian konflik sumber daya alam, pemetaan wilayah adat, konservasi berbasis komunitas, komunikasi publik, hingga penyusunan rencana tindak lanjut di daerah masing-masing.
Sekolah Kader kali ini mengusung empat nilai utama: Belajar, Bersatu, Bergerak, Menjaga. Keempat nilai ini menjadi fondasi membentuk generasi muda yang berpengetahuan, berintegritas, dan siap memimpin:
• Belajar: Memperkuat kapasitas dan wawasan
• Bersatu: Membangun solidaritas antarkomunitas
• Bergerak: Mendorong aksi nyata di lapangan
• Menjaga: Melindungi wilayah, budaya, dan kekayaan alam Raja Ampat
Baca Juga:
Institut USBA Gerakkan Warga Tiga Kampung di Distrik Ayau Tanam 1.020 Bibit Mangrove, Atasi Banjir Pasang dan Jaga Ekosistem Pesisir
Peserta juga akan dipersiapkan untuk berperan aktif dalam penyelenggaraan Jambore/Temu Raya Masyarakat Adat Raja Ampat yang direncanakan berlangsung pada Agustus 2026, sebagai ruang praktik kepemimpinan dan konsolidasi lebih lanjut.
Embrio Kepemimpinan Baru
Lebih dari sekadar pelatihan satu kali, angkatan pertama ini diproyeksikan menjadi cikal bakal terbentuknya Forum Pemuda dan Perempuan Adat Raja Ampat. Forum ini nantinya akan memperkuat kepemimpinan adat sekaligus menyusun penyelenggaraan Sekolah Kader secara lebih sistematis, berjenjang, dan berkelanjutan.