"Benih yang digunakan diharapkan berasal dari sumber benih yang ditetapkan pemerintah sehingga memiliki mutu genetik, kualitas, dan kesehatan terjamin. Dengan benih unggul, tanaman diharapkan tumbuh optimal dan beradaptasi baik dengan agroklimat Fakfak," jelas Widhi.
Secara teknis, program ini bertujuan mengganti tanaman kelapa tua, rusak, dan tidak produktif. Dengan benih unggul dan budidaya baik, produktivitas kebun masyarakat ditarget meningkat berkelanjutan, bahan baku industri hilir terpenuhi, nilai tambah komoditas naik, dan ekonomi masyarakat tumbuh.
Baca Juga:
Obeth Rumbruren Salurkan Bantuan untuk Sukseskan Raker Klasis GPI Papua di Fakfak
Widhi menegaskan program ini bukti tindak lanjut komunikasi Bupati Fakfak dengan Menteri Pertanian.
"Program Peremajaan Kelapa ini bukan sekadar mengganti tanaman tua, tetapi investasi jangka panjang membangun kembali produktivitas perkebunan kelapa rakyat. Pendataan CPCL yang akurat, penyiapan benih unggul, hingga pengawalan pengadaan akan kami pastikan sesuai ketentuan," katanya.
Ia menambahkan, pengembangan di Karas dan Furwagi penting karena terkait langsung dengan kehidupan masyarakat pesisir. "Daun kelapa tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menopang aktivitas penangkapan ikan terbang. Melalui program ini kami ingin memperkuat sinergi sektor perkebunan dan perikanan," ucapnya.
Baca Juga:
Kapolres Fakfak Ajak OKP Cipayung Plus Jaga Kamtibmas Lewat Dialog Terbuka
Pemerintah Kabupaten Fakfak mengajak pemerintah distrik, kampung, kelompok tani, dan masyarakat mendukung program agar berjalan tepat sasaran.
Pemkab optimistis peremajaan 75 hektar pada 2026 menjadi langkah awal membangkitkan kejayaan komoditas kelapa. Melalui sinergi Pemda, Kementan RI, pemerintah kampung, dan penyedia benih, pengembangan kelapa diharapkan meningkatkan produktivitas, memperkuat hilirisasi, menjaga keberlanjutan ekonomi pesisir, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam visi Fakfak Membara (Membangun Bersama Rakyat).
[Redaktur: Hotbert Purba]