“Pala adalah warisan rempah yang menyatukan budaya, menjaga hutan, dan menghidupi masyarakat dari generasi ke generasi. Karena itu, menjaga pala berarti menjaga identitas Fakfak itu sendiri,” ujarnya.
Widhi menjelaskan keberadaan Pala Tomandin memiliki makna lebih luas dibanding nilai ekonomi. Pala telah menjadi bagian jati diri masyarakat Fakfak yang mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan adat istiadat. Hal itu tercermin dalam tradisi Meri Totora, penghormatan kepada pala sebagai “Ibu Kehidupan” yang mengandung nilai syukur kepada Tuhan, penghormatan kepada leluhur, serta tanggung jawab menjaga alam.
Baca Juga:
Mengawali Minggu dengan Syukur, Pangdam XVIII/Kasuari Ibadah Bersama Jemaat GKI Imanuel Fakfak
Masyarakat Fakfak juga mengenal tradisi Kera-kera atau Sasi Pala, aturan adat yang mengatur waktu panen untuk menjaga kualitas hasil dan keberlanjutan sumber daya alam. Tradisi ini menunjukkan masyarakat Fakfak telah menerapkan prinsip konservasi jauh sebelum konsep pembangunan berkelanjutan dikenal luas.
Menurut Widhi, Pala Tomandin selain tanaman budidaya bernilai ekspor juga tanaman konservasi yang berperan menjaga tutupan hutan dan keseimbangan ekosistem. Sistem budidayanya yang menyatu dengan hutan menjadikan pala komoditas yang menghasilkan manfaat ekonomi dan jasa lingkungan.
Saat ini perkebunan pala rakyat di Kabupaten Fakfak tersebar di 15 distrik dan 117 kampung atau 78,52 persen, dengan luas areal sekitar 18.962 hektare. Produksi pala berkisar 1.800 hingga 2.000 ton per tahun, menjadi sumber penghidupan sekitar 3.840 petani, didukung 158 kelompok tani, 65 pengumpul, dan 7 pedagang grosir antar pulau.
Baca Juga:
Kunker di Sorong, Pangdam XVIII/Kasuari Sambangi Markas Batalyon Infanteri 762/Vira Yudha Sakti
Untuk menjaga mutu dan keberlanjutan produksi, Dinas Perkebunan terus mendorong penggunaan bibit unggul bersertifikat melalui kerja sama dengan BPT-PIT, sehingga kualitas dan produktivitas Pala Tomandin dapat terus meningkat sesuai kebutuhan pasar.
Meski demikian, tantangan terbesar saat ini adalah belum optimalnya pengolahan pala di dalam daerah. Sebagian besar pala masih dipasarkan dalam bentuk bahan baku, sementara pemanfaatan daging buah pala masih sangat rendah.
“Dari potensi yang ada, baru sekitar 2 persen atau sekitar 47 ton daging pala yang dimanfaatkan. Selebihnya masih belum diolah maksimal. Padahal di situlah peluang besar menciptakan nilai tambah dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” jelasnya.