Bupati menyoroti kuatnya harmoni sosial di Fakfak yang dikenal dengan filosofi “Satu Tungku Tiga Batu”. “Nilai luhur ini mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk hidup saling menopang dalam damai dan persaudaraan,” katanya.
Sambutan Gubernur Papua Barat yang dibacakan Sekda Ali Baham Temongmere menekankan pentingnya menjaga warisan toleransi dan persaudaraan yang tumbuh sejak awal masuknya agama-agama besar di Tanah Papua.
Baca Juga:
Di Fakfak, Uskup Bernardus Ajak Umat Lawan Ketidakadilan di Papua
Ia menyebut Fakfak telah menunjukkan kepada Indonesia bahkan dunia bahwa perbedaan agama bukan alasan terpecah, melainkan kekuatan untuk hidup bersama dalam damai.
Pemerintah Provinsi Papua Barat juga mendorong pelestarian situs-situs sejarah keagamaan di Papua Barat serta mendukung dokumentasi sejarah misi melalui penulisan buku dan pengembangan pusat sejarah misi di Papua.
Vikaris Jenderal Keuskupan Manokwari-Sorong, RD Izaak Bame, dalam refleksinya mengajak umat melanjutkan semangat keterbukaan dan persaudaraan yang telah ditunjukkan masyarakat Fakfak sejak awal kedatangan misionaris.
Baca Juga:
Alumni Don Bosco Fakfak Jadi Uskup: “Kami Jadi Seperti Sekarang Karena Guru”
“Saya selalu bilang, orang Fakfak itu luar biasa. Mereka sudah punya agama, tetapi tetap terbuka menjadi pengantar dan penghubung bagi masuknya Injil ke Papua,” ujarnya.
Pastor Isak Bame juga mengajak keluarga mulai mendoakan dan mendukung anak-anak asli Papua untuk menjadi imam maupun biarawan-biarawati.
Ia menyoroti masih minimnya jumlah imam asli Papua dan mengusulkan agar perayaan besar misi Katolik di Papua dilaksanakan setiap tiga atau lima tahun sekali agar energi umat dapat diarahkan pada pelayanan pastoral lainnya.