PAPUA-BARAT.WAHANANEWS.CO, Raja Ampat – Masyarakat adat Raja Ampat menegaskan bahwa masa depan wilayah ini tidak dapat dipisahkan dari pengakuan dan penguatan posisi mereka sebagai pemegang hak sekaligus penjaga sah wilayah adat.
Penegasan ini muncul dalam kegiatan Sekolah Kader Masyarakat Adat Raja Ampat 2026, yang kini menjadi fondasi persiapan menuju HEYUL PELEI KORANU FYAK (Jumpa Akbar Masyarakat Adat Raja Ampat) Arborek 2026, berlangsung 20–23 Agustus 2026 di Kampung Arborek, Distrik Meos Mansar, Kabupaten Raja Ampat.
Baca Juga:
Tutup Sekolah Kader, Masyarakat Adat Raja Ampat Sepakati Arah Perjuangan Bersama
Sekolah Kader: Awal Sistem Regenerasi Berkelanjutan
Sekolah Kader diselenggarakan pada 20–22 Juli 2026 di Kota Sorong sebagai ruang pembelajaran, konsolidasi, dan pembentukan kepemimpinan masyarakat adat. Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan jangka pendek, melainkan langkah strategis membangun sistem kaderisasi yang berkelanjutan demi menyiapkan pemimpin adat masa depan.
Sebanyak 40 peserta terlibat, terdiri dari 36 perwakilan masyarakat adat (18 laki-laki, 18 perempuan) yang mewakili 20 suku dan sub-suku, serta 4 peserta dari unsur kepala suku, pemuda, dan mitra pendukung. Komposisi ini dinilai mencerminkan proses yang inklusif, partisipatif, serta memperkuat persatuan lintas suku, generasi, dan gender.
Baca Juga:
BLUD Raja Ampat dan Institut USBA Perkuat Kelembagaan Masyarakat Adat untuk Konservasi Berkelanjutan
Selama tiga hari, peserta mendalami materi meliputi: organisasi adat, kepemimpinan, pengorganisasian masyarakat, konflik sumber daya alam, penguatan hak dan kebijakan, pemetaan wilayah adat, konservasi berbasis adat, ekonomi berkelanjutan, serta peran perempuan dan pemuda dalam regenerasi kepemimpinan. Seluruh proses berlandaskan semangat: “Belajar • Bersatu • Bergerak.”
Lahirnya Semangat Baru Generasi Muda
Sekolah Kader membangkitkan semangat baru di kalangan pemuda adat. Mereka tampil aktif menyuarakan pentingnya persatuan, perlindungan wilayah, pelestarian hutan-laut, penguatan budaya, dan kepemimpinan lintas generasi. Kehadiran mereka menjadi jembatan antara pengalaman tetua adat dan harapan masa depan—tercermin dalam partisipasi di dialog, media sosial, dokumentasi, dan persiapan menuju Arborek 2026. Ini bukti bahwa perjuangan menjaga Raja Ampat akan diteruskan oleh generasi yang bersatu dan bergerak bersama.