PAPUA-BARAT.WAHANANEWS.CO, Raja Ampat – Banjir pasang dan genangan air yang kerap melanda Kampung Dorehkar saat curah hujan tinggi kini mulai dicari solusinya. Institut USBA bersama Dewan Adat Sub Suku USBA, Pemuda Adat USBA, dan masyarakat Ayau menggelar pendidikan lingkungan dan penanaman mangrove 27-29 Mei lalu di Distrik Ayau, Kabupaten Raja Ampat.
Inisiatif ini lahir dari keprihatinan bersama atas kondisi lingkungan pesisir yang rentan. Lewat dukungan program FoLU, kegiatan disepakati sebagai langkah nyata menjaga dan mengembangkan lingkungan demi kebaikan hidup bersama.
Baca Juga:
Dari Maluku Utara ke Raja Ampat: Penertiban Tambang dan Agenda Konsistensi Hukum
Kolaborasi lintas unsur terlihat kuat. Hadir Kepala Kampung Dorehkar Lovesye Umpes, Kepala Kampung Boiseran Wolfrit Burdam, Kepala Kampung Runi Rudi Umpes, Kepala SD YPK Silo Dorehkar Ibu Numberi, Kepala Distrik Ayau yang diwakili Paul Rumbewas, para Kepala Adat marga Umpes, Burdam, Imbir, Rumbewas, dan Mambrisau, serta dukungan KKP Ayau Asia dan BLUD Raja Ampat.
262 warga dan pelajar turun langsung tanam mangrove
Kegiatan diikuti 162 siswa SD YPK Silo Dorehkar dan 100 orang dewasa. Peserta dewasa merupakan utusan tiap marga, masyarakat umum, pegawai, dan aparatur kampung. Keterlibatan aktif siswa SD menjadi simbol harapan agar kepedulian lingkungan ditanamkan sejak dini.
Baca Juga:
Catatan Satu Tahun Kepemimpinan Orideko Burdam-Mansyur Syahdan di Raja Ampat
“Semangat yang kami usung, kesejahteraan manusia terjamin jika hidup harmonis dengan alam dan menjunjung tinggi nilai budaya luhur,” kata ketua panitia Matias Rumbewas.
Materi pendidikan lingkungan disampaikan Aser Burdam dan Filep Imbir. Setelahnya, siswa bersama warga turun langsung ke lokasi penanaman. Suasana gotong royong terasa kental sepanjang acara.
3 titik strategis, 7 kilometer pesisir dihijaukan
Secara rinci, total 1.020 bibit mangrove ditanam di lahan sepanjang 7 kilometer. Rinciannya: Pantai Dorei Kampung Dorehkar 620 bibit, wilayah Kampung Runi kawasan Marga Rumbewas 200 bibit, dan kawasan Boyabo Kampung Boiseran 200 bibit. Pemilihan lokasi fokus pada titik rawan banjir dan abrasi saat air pasang.
Ketua Panitia Penanaman Mangrove Matias Rumbewas, didampingi Koordinator Lapangan Pemuda Adat dan Sekretaris Oktovianus Imbir, berharap kegiatan serupa terus berjalan berkelanjutan. Agenda lanjutan yang diusulkan warga meliputi penanaman mangrove, pembersihan sampah, dan pemeliharaan lingkungan hidup.
“Dukungan lebih luas dari berbagai pihak sangat kami harapkan agar upaya jaga kelestarian alam dan kenyamanan hidup warga Distrik Ayau memberi manfaat jangka panjang bagi generasi mendatang,” ujar Matias.
Lewat aksi ini, masyarakat Ayau membuktikan pengelolaan lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab bersama. Dari Dorehkar hingga Runi dan Boiseran, 1.020 mangrove baru kini berdiri sebagai tameng alami sekaligus warisan untuk anak cucu.
[Redaktur: Hotbert Purba]