Kondisi ini, kata Widhi, adalah peluang sekaligus peringatan. Ke depan yang dibangun bukan hanya tanaman palanya, tapi ekosistem agribisnis pala utuh: dari kebun, riset, inovasi produk, sampai pasar. Bahkan bagian yang selama ini dianggap limbah ditargetkan berubah menjadi sumber ekonomi baru lewat hilirisasi.
Dinas Perkebunan berharap bisa menggandeng mitra riset terapan dan pendampingan teknis agar pembelajaran Pala Tomandin tidak berhenti di budidaya. Tahap selanjutnya adalah penguatan hilirisasi, inovasi produk, dan penciptaan nilai tambah berbasis agroindustri lokal.
Baca Juga:
Kepala Kampung Werba Utara Kawal Edaran Bupati Soal Harga Pala Fakfak
Melalui sinergi pemerintah daerah, lembaga pendidikan, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan generasi muda, branding Pala Unggul Fakfak diharapkan menjadi gerakan kolektif. Targetnya: masa depan pala yang lestari, bernilai tinggi, dan jadi kebanggaan Fakfak di tingkat nasional maupun global.
[Redaktur: Hotbert Purba]