PAPUA-BARAT.WAHANANEWS.CO, Fakfak- Dinas Perkebunan Fakfak memulai Bimbingan Teknis Pala Tomandin untuk siswa SMA sebagai ujung tombak branding Pala Unggul Fakfak.
Program yang menyasar regenerasi petani ini sekaligus menyoroti potensi besar yang belum tersentuh
Baca Juga:
Kepala Kampung Werba Utara Kawal Edaran Bupati Soal Harga Pala Fakfak
Bimtek tahun ini dipusatkan di tiga Sekolah Menengah Atas, salah satunya SMA Negeri 2 Fakfak. Siswa tidak hanya mendengar teori, tapi langsung praktik budidaya Pala Tomandin, penanaman bibit unggul, dan aplikasi nutrisi hayati. Tujuannya membuat pertumbuhan tanaman lebih sehat, produktif, dan ramah lingkungan.
Kepala SMAN 2 Fakfak Candra Urbaningrum mengatakan model pembelajaran ini memaksa siswa turun ke lapangan dan melakukan riset sederhana. Mulai dari karakteristik varietas, adaptasi lingkungan, hingga peluang produk turunan pala.
“Kegiatan seperti ini membangun budaya belajar berbasis penelitian dan mempererat hubungan pendidikan dengan potensi unggulan daerah,” kata Candra.
Baca Juga:
Jemput Aspirasi Musrenbang 2026, Dinas Perkebunan Fakfak Turun Langsung Verifikasi Potensi Kampung di Distrik Furwagi
Kepala Dinas Perkebunan Fakfak Widhi Asmoro Jati menyebut arah program jelas: mencetak Generasi Z Fakfak yang mengenal, mencintai, dan menjadikan pala sebagai tanaman investasi jangka panjang. Baginya pala bukan sekadar komoditas, tapi warisan leluhur dan simbol jati diri Fakfak.
“Kita ingin anak-anak asli Fakfak tumbuh dengan pemahaman bahwa pala adalah masa depan daerah, sumber kesejahteraan masyarakat, sekaligus identitas yang harus dijaga, dikembangkan, dan diwariskan,” ujarnya.
Yang membuat program ini berbeda adalah penekanan pada hilirisasi. Widhi mengungkap masih besarnya kebocoran nilai ekonomi pala Fakfak. Dari total potensi produksi biji pala per tahun, sekitar 18 ribu ton daging buah pala belum termanfaatkan maksimal. Sementara yang berhasil diolah baru sekitar 2%.
Kondisi ini, kata Widhi, adalah peluang sekaligus peringatan. Ke depan yang dibangun bukan hanya tanaman palanya, tapi ekosistem agribisnis pala utuh: dari kebun, riset, inovasi produk, sampai pasar. Bahkan bagian yang selama ini dianggap limbah ditargetkan berubah menjadi sumber ekonomi baru lewat hilirisasi.
Dinas Perkebunan berharap bisa menggandeng mitra riset terapan dan pendampingan teknis agar pembelajaran Pala Tomandin tidak berhenti di budidaya. Tahap selanjutnya adalah penguatan hilirisasi, inovasi produk, dan penciptaan nilai tambah berbasis agroindustri lokal.
Melalui sinergi pemerintah daerah, lembaga pendidikan, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan generasi muda, branding Pala Unggul Fakfak diharapkan menjadi gerakan kolektif. Targetnya: masa depan pala yang lestari, bernilai tinggi, dan jadi kebanggaan Fakfak di tingkat nasional maupun global.
[Redaktur: Hotbert Purba]