PAPUA-BARAT.WAHANANEWS.CO, Raja Ampat – Satu tahun telah berlalu sejak pemerintah Kabupaten Raja Ampat meluncurkan Roadmap Pembangunan 2025-2029 dengan target menjadikan daerah ini sebagai pusat ekonomi kreatif dan pariwisata berkelanjutan di kawasan Timur Indonesia.
Periode yang seharusnya menjadi titik balik penting untuk mengukur kemajuan pembangunan justru menunjukkan realitas yang jauh dari harapan masyarakat.
Baca Juga:
Aksi Premanisme di Waisai, Driver Ojek Lokal Kejar dan Pukul Driver Maxim, Korban Alami Luka Kaki
Visi besar "Raja Ampat Bangkit" yang menjadi pijakan pembangunan daerah selama lima tahun ke depan ternyata masih jauh dari kenyataan.
Setelah satu tahun masa pelaksanaan awal, perkembangan berbagai program pembangunan belum mampu mencerminkan ambisi yang telah digaungkan pemerintah daerah, membuat harapan masyarakat untuk kemajuan ekonomi dan kesejahteraan terhambat.
Berikut rincian evaluasi terhadap enam aspek krusial:
Baca Juga:
Dibalik Kewenangan Anggaran, Fakta Menyakitkan: APBD 2025, Proyek Mangkrak & Kualitas Jelek di Raja Ampat
1. Penyerapan APBD: Lemah dan Tidak Terstruktur
Penyerapan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) hingga pertengahan tahun menunjukkan performa yang jauh dari optimal. Data yang diperoleh menunjukkan hanya sekitar 32% dari total alokasi yang berhasil diserap, jauh di bawah target 50% yang seharusnya tercapai pada periode ini. Banyak proyek strategis yang terhambat akibat proses administrasi yang rumit, seleksi vendor yang tidak transparan, dan kurangnya koordinasi antar dinas. Beberapa sektor prioritas seperti pariwisata dan infrastruktur dasar bahkan hanya mencapai penyerapan di bawah 25%, membuat harapan akan percepatan pembangunan terasa sekadar omong kosong.
2. Perputaran Ekonomi: Tumbuh Lambat dan Terbatas Sektor