Menurutnya, pala merupakan tanaman perkebunan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, umur produksi panjang, serta pasar yang terus berkembang, sehingga sangat tepat dikembangkan sebagai tabungan hidup dan warisan usaha bagi keluarga petani di Fakfak.
Ia menambahkan, melalui program ini pemerintah mendorong masyarakat untuk menanam dengan perencanaan, komitmen, dan kesadaran jangka panjang, bukan sekadar mengejar bantuan.
Baca Juga:
Bareskrim Gerebek Meja Goyang Timah Ilegal, 16 Ton Pasir Timah Sempat Diselundupkan
“Insentif hanyalah stimulan awal. Keberhasilan sesungguhnya ada pada kemauan petani merawat, menjaga, dan mewariskan kebun pala sebagai aset keluarga dan daerah,” tegasnya.
Mengakhiri pernyataannya, Widhi mengajak seluruh masyarakat, khususnya petani Orang Asli Fakfak, untuk memanfaatkan kesempatan ini dengan penuh tanggung jawab.
“Menanam pala hari ini berarti menyiapkan masa depan ekonomi Fakfak. Apa yang kita tanam sekarang, hasilnya akan kembali kepada kita dan anak cucu kita nanti," demikian Widhi Asmoro Jati.
Baca Juga:
Retribusi Pala Februari 2026 Capai Rp98,9 Juta, Kualitas Terjaga Meski Produksi Statis
[Redaktur: Hotbert Purba]