"Termasuk pula prosesi Adat Meri Totora yang menjadi bagian bagian penting dari budaya kita masyarakat Fakfak untuk menghormati pohon Pala Tomandin sebagai simbol kehidupan dan warisan leluhur," ungkapnya.
Sambungnya, prosesi Meri Totora dilakukan karena Pala dianggap sebagai "ibu" sebagai bentuk konsep simbolik yang hidup dalam budaya masyarakat adat Fakfak dan memiliki makna sangat dalam.
Baca Juga:
Fuly Pala Tomandin Fakfak Tembus Rp250 Ribu per Kilogram, Bukti Daya Saing Premium di Pasar Nasional
Dalam konteks ini, pala tidak hanya dipandang sebagai komoditas ekonomi, tetapi sebagai entitas hidup yang dihormati, dimuliakan, dan dijaga seperti seorang ibu.
"Mudah-mudahan prosesi terus dilestarikan sesuai dengan tata cara masyarakat Fakfak untuk menjaga nilai-nilai tradisi sekaligus melindungi komoditas pala agar tetap memiliki mutu dan kualitas hingga harga yang kita harapkan serta pala tetap lestari dan berkelanjutan," demikian Widhi Asmoro Jati.
[Redaktur: Hotbert Purba]
Baca Juga:
Bareskrim Gerebek Meja Goyang Timah Ilegal, 16 Ton Pasir Timah Sempat Diselundupkan