PAPUA-BARAT.WAHANANEWS.CO, Fakfak – Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, mengajak masyarakat Maybrat untuk mewaspadai penipuan digital serta menjaga persatuan dan tanah adat di tengah perkembangan zaman.
Pesan itu disampaikan saat memimpin misa bersama keluarga besar Maybrat di Aula Lingkungan Sina, Kompleks Kampung Pasir, Kabupaten Fakfak, Rabu 20 Mei 2026.
Baca Juga:
Harkitnas ke-118, Korem 182/JO Gelar Upacara di Fakfak Soroti Kemandirian Bangsa
Dalam khotbahnya, Bernardus menyebut tantangan saat ini tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga serangan melalui media sosial dan dunia digital.
“Sekarang orang bisa saling membunuh karakter lewat HP dan media sosial. Orang saling menyerang, iri, dan menjatuhkan satu sama lain melalui dunia maya,” katanya.
Ia mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai kejahatan digital, termasuk penipuan lewat telepon genggam dan media sosial. Contohnya modus penipuan yang menawarkan keuntungan besar dalam waktu singkat hingga praktik manipulasi identitas yang kerap memakan korban.
Baca Juga:
Mega Kapaur Wakili Fakfak ke Tahap Nasional Young Ambassador Agriculture 2026
Foto bersama usai misa, Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru dengan Keluarga Besar Maybrat di Aula Lingkungan Sina, Kompleks Kampung Pasir, Kabupaten Fakfak, Rabu 20 Mei 2026.
Karena itu, Uskup Bernardus meminta masyarakat lebih bijak menggunakan teknologi dan tidak mudah percaya pada informasi maupun tawaran yang beredar di dunia maya.
Selain persoalan digital, ia juga menekankan pentingnya menjaga persatuan masyarakat adat Maybrat meski berada di wilayah administrasi berbeda.
“Kita harus kembali kepada nilai-nilai adat, tanah pusaka, tempat-tempat sakral, dan warisan leluhur yang menjadi pengikat persaudaraan,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat adat perlu memahami sejarah marga, hak ulayat, dan wilayah adat masing-masing agar tidak mudah kehilangan tanah warisan akibat kepentingan ekonomi sesaat.
Perlindungan terhadap tanah adat harus diperkuat melalui aturan hukum dan lembaga resmi masyarakat adat agar hutan, gunung, sungai, dan tempat sakral tetap terjaga.
“Jangan sampai karena uang sesaat, tanah warisan dijual begitu saja dan generasi mendatang kehilangan identitas mereka,” katanya.
Uskup Bernardus juga mengajak warga Maybrat di Fakfak untuk tetap menjaga hubungan dengan kampung halaman serta memperkuat persaudaraan antarkeluarga.
Ia berharap masyarakat adat tetap bersatu menjaga tanah leluhur dan tidak mudah terpecah oleh kepentingan tertentu.
“Kita percaya Yesus sudah mendoakan kita supaya tetap bersatu. Kita adalah milik Tuhan, bukan milik dunia,” ujarnya.
[Redaktur: Hotbert Purba]