“Jangan lagi menjual pala dalam kondisi mentah. Nilai ekonominya sangat jauh berbeda. Jika petani mengolah dengan baik hingga kering dan berkualitas, maka harga yang diterima bisa lebih tinggi dan lebih bermakna bagi kesejahteraan keluarga," ucapnya.
Penguatan pascapanen menjadi kunci hilirisasi komoditas pala di Fakfak. Mulai dari pemisahan biji dan fuly, proses pengeringan yang tepat, sortasi mutu, hingga pengemasan yang standar semuanya menentukan nilai jual akhir.
Baca Juga:
Dinas Perkebunan Fakfak Gandeng Bank Papua, Terapkan Sistem VA untuk Pembayaran Retribusi Pala
Dengan pengolahan yang benar, petani pekebun pala tidak lagi sekadar produsen bahan baku, tetapi naik kelas menjadi pelaku usaha yang memiliki nilai tambah.
Dinas Perkebunan Fakfak, lanjutnya, siap mendukung melalui pendampingan teknis, peningkatan kapasitas, serta penguatan kelembagaan kelompok tani agar petani mampu mandiri dalam pengolahan dan pemasaran.
“Kalau kita ingin Pala Tomandin Fakfak tetap berjaya, mendapatkan harga yang tinggi dan memberi manfaat besar, maka kuncinya ada pada mutu dan kualitas mengikuti mekanisme yang tepat dalam memanen pala serta keberanian untuk mengolah sendiri oleh petani pekebun pala," demikian Widhi Asmoro Jati.
Baca Juga:
Program Peminatan Kawasan Pala Fakfak, Pemerintah Pusat Berikan Alokasi Pengembangan Seluas 1000 Hektare Tahun 2026
[Redaktur: Hotbert Purba]