PAPUA-BARAT.WAHANANEWS.CO, Fakfak - Kabar menggembirakan datang dari sentra perkebunan pala di Fakfak. Harga fuly pala (bunga pala) varietas Tomandin kini menembus angka Rp250.000,- per kilogram menjadi salah satu harga tertinggi dalam beberapa waktu terakhir.
Kenaikan ini menjadi sinyal kuat bahwa Pala Tomandin Fakfak memiliki daya saing dan permintaan tinggi di pasar. Komoditas ini bahkan tengah diburu pembeli antar pulau hingga luar negeri yang beroperasi melalui kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya.
Baca Juga:
Dinas Perkebunan Fakfak Gandeng Bank Papua, Terapkan Sistem VA untuk Pembayaran Retribusi Pala
Permintaan yang stabil membuat harga jualnya tetap kompetitif dan relatif lebih kokoh dibandingkan jenis pala dari sejumlah daerah lain.
Fuly pala dikenal sebagai bagian paling bernilai dari buah pala. Komoditas ini digunakan dalam industri rempah, makanan dan minuman, farmasi, hingga kosmetik.
Saat harga mencapai titik premium seperti ini, dampaknya langsung dirasakan petani: pendapatan meningkat, daya beli menguat, dan semangat menjaga kualitas produksi pun semakin tinggi.
Baca Juga:
Program Peminatan Kawasan Pala Fakfak, Pemerintah Pusat Berikan Alokasi Pengembangan Seluas 1000 Hektare Tahun 2026
Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST, MT, saat melakukan inspeksi ke sejumlah pedagang grosir pedagang antar pulau, menjelaskan bahwa harga Rp250.000,- per kilogram menempatkan fuly Pala Tomandin Fakfak sebagai salah satu yang tertinggi pembelian di tempat produsen di Indonesia saat ini.
Namun demikian harga ini tentu dapat di capai dengan persyaratan tertentu seperti fuly pala di peroleh dari pala tua/matang petik dan dalam kondisi utuh di lepas dari bijinya tanpa menggunakan alat.
Jika dibandingkan dengan sentra pala seperti Maluku Utara, Aceh Selatan, maupun beberapa wilayah di Sulawesi Utara, harga di daerah tersebut umumnya berada pada kisaran lebih rendah dan sangat bergantung pada volume produksi. Ketika pasokan melimpah, harga bahkan bisa berada di bawah Rp200.000,- per kilogram.
Lantas, mengapa Fakfak bisa lebih tinggi?
Pertama, kualitas dan ciri khas aroma. Fuly pala Fakfak di kenal memiliki warna merah cerah, serat utuh, serta aroma kuat dengan kandungan minyak atsiri yang baik. Karakter ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli antar pulau bahkan buyer dari luar.
Kedua, ketersediaan yang terbatas. Fuly merupakan bagian bunga pala yang jumlahnya tidak sebanyak biji, sementara kebutuhan industri cukup tinggi. Kelangkaan alami ini mendorong harga tetap premium.
Ketiga, permintaan stabil dari luar daerah. Pedagang besar tetap bersedia membeli dengan harga tinggi karena kualitas pala Fakfak di nilai konsisten dan memiliki segmen pasar tersendiri.
Selain itu, tata Kelola dan pengawasan mutu yang semakin baik turut memperkuat posisi tawar Fakfak. Produk yang dihasilkan melalui intervensi mengikuti permintaan pasar dan keluar kini lebih selektif melalui proses uji kualitas dan pengemasan yang rapi, sehingga kepercayaan pasar tetap terjaga.
"Kami sering mengedukasi pelaku usaha dan pekebun pala agar selalu menjaga mutu dan kualitas pala, menunggu hingga waktunya yang tepat untuk memanen bahkan edukasi dilakukan melalui perkiraan kalender musim panen dan musim tanam," ujar Widhi Asmoro Jati.
Ia juga mengaku dihubungi sejumlah buyer dari luar, khususnya yang beroperasi di Jakarta dan Surabaya, yang menanyakan langsung ketersediaan dan produktivitas fuly pala Fakfak. Bahkan, para pembeli secara terbuka menyatakan kesiapannya mengikuti harga yang berlaku di tingkat perdagangan Fakfak, selama kualitas terjamin.
Momentum harga tinggi ini, menurutnya, harus menjadi titik balik perubahan pola usaha petani pekebun pala. Ia mengajak para petani pekebun pala untuk tidak lagi menjual pala dalam kondisi mentah atau basah.
“Jangan lagi menjual pala dalam kondisi mentah. Nilai ekonominya sangat jauh berbeda. Jika petani mengolah dengan baik hingga kering dan berkualitas, maka harga yang diterima bisa lebih tinggi dan lebih bermakna bagi kesejahteraan keluarga," ucapnya.
Penguatan pascapanen menjadi kunci hilirisasi komoditas pala di Fakfak. Mulai dari pemisahan biji dan fuly, proses pengeringan yang tepat, sortasi mutu, hingga pengemasan yang standar semuanya menentukan nilai jual akhir.
Dengan pengolahan yang benar, petani pekebun pala tidak lagi sekadar produsen bahan baku, tetapi naik kelas menjadi pelaku usaha yang memiliki nilai tambah.
Dinas Perkebunan Fakfak, lanjutnya, siap mendukung melalui pendampingan teknis, peningkatan kapasitas, serta penguatan kelembagaan kelompok tani agar petani mampu mandiri dalam pengolahan dan pemasaran.
“Kalau kita ingin Pala Tomandin Fakfak tetap berjaya, mendapatkan harga yang tinggi dan memberi manfaat besar, maka kuncinya ada pada mutu dan kualitas mengikuti mekanisme yang tepat dalam memanen pala serta keberanian untuk mengolah sendiri oleh petani pekebun pala," demikian Widhi Asmoro Jati.
[Redaktur: Hotbert Purba]