Lantas, mengapa Fakfak bisa lebih tinggi?
Pertama, kualitas dan ciri khas aroma. Fuly pala Fakfak di kenal memiliki warna merah cerah, serat utuh, serta aroma kuat dengan kandungan minyak atsiri yang baik. Karakter ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli antar pulau bahkan buyer dari luar.
Baca Juga:
Dinas Perkebunan Fakfak Gandeng Bank Papua, Terapkan Sistem VA untuk Pembayaran Retribusi Pala
Kedua, ketersediaan yang terbatas. Fuly merupakan bagian bunga pala yang jumlahnya tidak sebanyak biji, sementara kebutuhan industri cukup tinggi. Kelangkaan alami ini mendorong harga tetap premium.
Ketiga, permintaan stabil dari luar daerah. Pedagang besar tetap bersedia membeli dengan harga tinggi karena kualitas pala Fakfak di nilai konsisten dan memiliki segmen pasar tersendiri.
Selain itu, tata Kelola dan pengawasan mutu yang semakin baik turut memperkuat posisi tawar Fakfak. Produk yang dihasilkan melalui intervensi mengikuti permintaan pasar dan keluar kini lebih selektif melalui proses uji kualitas dan pengemasan yang rapi, sehingga kepercayaan pasar tetap terjaga.
Baca Juga:
Program Peminatan Kawasan Pala Fakfak, Pemerintah Pusat Berikan Alokasi Pengembangan Seluas 1000 Hektare Tahun 2026
"Kami sering mengedukasi pelaku usaha dan pekebun pala agar selalu menjaga mutu dan kualitas pala, menunggu hingga waktunya yang tepat untuk memanen bahkan edukasi dilakukan melalui perkiraan kalender musim panen dan musim tanam," ujar Widhi Asmoro Jati.
Ia juga mengaku dihubungi sejumlah buyer dari luar, khususnya yang beroperasi di Jakarta dan Surabaya, yang menanyakan langsung ketersediaan dan produktivitas fuly pala Fakfak. Bahkan, para pembeli secara terbuka menyatakan kesiapannya mengikuti harga yang berlaku di tingkat perdagangan Fakfak, selama kualitas terjamin.
Momentum harga tinggi ini, menurutnya, harus menjadi titik balik perubahan pola usaha petani pekebun pala. Ia mengajak para petani pekebun pala untuk tidak lagi menjual pala dalam kondisi mentah atau basah.