Sesi paralel digelar di berbagai sudut sekolah. Siswa kelas 1 dan 2 diajak mengenal permainan tradisional melalui "Traditional Play Day" seperti engklek, lompat tali, boi-boian, lempar sandal, dan ular naga.
Siswa kelas 3 mengikuti Edu-Forest Rimba Cilik: Eksplorasi Keanekaragaman Hayati Lewat Kreasi Ecoprint. Siswa kelas 4 menjadi ilmuwan cilik melalui eksperimen "Bikin Es Krim Cepat Tanpa Kulkas" untuk belajar perubahan wujud benda.
Baca Juga:
Keterlambatan Dokumen Anggaran Beruntun, DPRK Raja Ampat Tegur Tata Kelola Keuangan Pemda
Program literasi dan kesehatan juga digelar. Siswa kelas 5 dan 6 diperkenalkan dunia farmasi melalui Taman Baca dan Apoteker Cilik: Cerdas Kelola Obat dengan DAGUSIBU. Anak PAUD mengikuti "Aku Hebat, Gigiku Sehat" untuk peningkatan kesadaran kesehatan gigi.
Tak hanya anak, ibu-ibu PKK juga dilibatkan. Mereka mengikuti pelatihan Sosialisasi Presto Ikan untuk meningkatkan nilai jual produk perikanan lokal, serta penyuluhan hukum bertema "Wanita Tangguh: Cegah Nikah Siri dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga".
Sinergi Pemkab dan Kampus
Baca Juga:
Menuju Heyul Pelei Koranu Fyak, Masyarakat Adat Raja Ampat Tegaskan Kedaulatan Wilayah
Sinergi antara Pemkab Raja Ampat dan UGM dalam festival ini dinilai sebagai model kolaborasi ideal antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi. Pemkab menyediakan dukungan kelembagaan, sementara mahasiswa menghadirkan inovasi berbasis ilmu pengetahuan.
Festival resmi ditutup pada hari yang sama. Namun penyelenggara berharap semangat yang dibangun dapat terus berlanjut untuk melahirkan generasi Raja Ampat yang cerdas, sehat, berbudaya, dan berdaya dalam menjaga tanah dan lautnya.
[Redaktur: Hotbert Purba]