PAPUA-BARAT.WAHANANEWS.CO, Fakfak – Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak bersama Yayasan Akape Inma sepakat memperkuat kerja sama pengembangan database petani dan perkebunan. Data tersebut akan jadi dasar perencanaan pembangunan, peningkatan investasi, serta pengembangan hilirisasi komoditas unggulan daerah, khususnya Pala Tomandin Fakfak.
Komitmen itu mengemuka dalam audiensi dan diskusi di Kantor Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak. Pertemuan membahas pendataan petani, pemetaan potensi perkebunan, pemberdayaan masyarakat adat, hingga peluang investasi dan pengembangan industri berbasis pala.
Baca Juga:
Dinas Perkebunan Fakfak Panen Bersama di Kokas, Ajak Pekebun Jaga Kualitas Pala Jelang Musim Barat
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak Widhi Asmoro Jati mengatakan database petani dan perkebunan merupakan kebutuhan mendasar untuk membangun sektor perkebunan secara terarah dan berkelanjutan. Investor yang ingin masuk ke Fakfak selalu membutuhkan data jelas terkait luas lahan, jumlah petani, potensi produksi, hingga kondisi sosial masyarakat.
“Database menjadi kunci perencanaan. Kalau kita ingin menarik investasi dan menyusun program yang tepat sasaran, maka semuanya harus dimulai dari data yang akurat,” ujar Widhi.
Ia mengakui penyusunan database menyeluruh butuh biaya besar. Karena itu, Dinas Perkebunan melakukan pendataan bertahap lewat kegiatan yang langsung menyentuh kelompok tani pekebun di lapangan. “Setiap kegiatan kami manfaatkan untuk memperkuat data petani dan lahan perkebunan. Ini memang belum sempurna, tetapi menjadi langkah awal menuju database perkebunan yang lebih lengkap,” jelasnya.
Baca Juga:
Pangdam XVIII/Kasuari Tanam Pohon Pala Kenangan di Fakfak, Dorong Inovasi Hilir untuk Nilai Tambah Ekonomi
Ketua Yayasan Akape Inma Anton Tanggahma mendukung upaya pemerintah membangun database perkebunan yang lebih baik. Menurut Anton, data perkebunan tidak cukup hanya memuat luas lahan dan jumlah produksi. Data juga harus menggambarkan kondisi sosial budaya masyarakat, wilayah adat, karakteristik petani, serta potensi ekonomi tiap kampung.
“Data yang baik tidak hanya berisi angka-angka, tetapi juga mampu menggambarkan kondisi masyarakat dan potensi daerah secara utuh. Dengan begitu pemerintah memiliki dasar yang kuat dalam menyusun kebijakan, sementara investor mendapatkan gambaran yang jelas sebelum berinvestasi,” kata Anton.
YAI siap mendukung lewat pemetaan partisipatif, pendampingan masyarakat, penguatan kelembagaan petani, serta pengembangan sistem informasi perkebunan yang berkelanjutan.
*Fokus tingkatkan mutu Pala Tomandin*
Diskusi juga membahas upaya peningkatan mutu dan kualitas Pala Tomandin Fakfak. Widhi menjelaskan kualitas produk jadi faktor utama penentu harga pala di tingkat petani. Dinas Perkebunan terus mendorong petani memanen pala yang benar-benar matang, memperbaiki penanganan pascapanen, serta menerapkan standar mutu yang disepakati bersama.
“Kami ingin petani memperoleh nilai ekonomi yang lebih baik. Kuncinya ada pada mutu dan kualitas hasil panen. Semakin baik kualitas pala yang dihasilkan, semakin tinggi pula harga yang diterima petani,” ujarnya.
Pemda juga kembangkan inovasi dukung peningkatan kualitas, seperti pembangunan rumah pengering solar dryer, rumah produksi, serta teknologi pascapanen yang sesuai kondisi masyarakat. Dinas Perkebunan tengah mendorong pemanfaatan daging buah pala yang belum optimal untuk diolah jadi pupuk organik maupun produk turunan bernilai ekonomi.
Widhi menegaskan percepatan pembangunan perkebunan tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, lembaga pendamping, dunia usaha, perguruan tinggi, dan pihak lainnya.
“Kami membutuhkan mitra yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat dan komoditas unggulan daerah. Dengan kolaborasi yang baik, pembangunan perkebunan akan lebih cepat dan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” tegasnya.
Melalui kerja sama ini, Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak dan Yayasan Akape Inma berharap pengembangan Pala Tomandin Fakfak semakin terarah, didukung data kuat, mampu menarik investasi, mendorong hilirisasi, serta meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat Fakfak secara berkelanjutan.
[Redaktur: Hotbert Purba]