Keberadaan kapal yang terbengkalai tidak hanya merusak pemandangan dan mengurangi nilai keindahan alam, tetapi juga menempatkan keselamatan para pengunjung dalam posisi yang sangat rawan.
Kapal wisata, kapal selam kecil, maupun alat penunjang kegiatan menyelam dapat mengalami kerusakan parah sewaktu-waktu, dan insiden semacam ini sudah pasti akan menghancurkan nama baik daerah sebagai tujuan wisata andalan yang aman dan terjamin kenyamanannya.
Baca Juga:
Dua Lokasi, Satu Masalah: Cerminan Tata Kelola Laut di Raja Ampat Lemah
Ancaman yang paling serius dan sulit diperbaiki justru mengarah langsung pada aspek lingkungan yang merupakan nyawa dan aset terbesar daerah ini.
Kapal tersebut dipastikan masih menyimpan berbagai jenis bahan berbahaya, mulai dari bahan bakar, minyak pelumas, hingga sisa zat kimia lain yang sewaktu-waktu dapat tumpah dan menyebar ke seluruh bagian air jika terjadi kerusakan struktur akibat gelombang atau benturan.
Begitu zat ini masuk ke dalam ekosistem laut, dampaknya akan menjalar dengan cepat dan mematikan bagi seluruh makhluk hidup yang ada di dalamnya.
Baca Juga:
Bermon Sauyai: Aturan Jelas, Dana Tersedia, Tapi Bangkai Kapal Tetap Dibiarkan Merusak Ekosistem
Wilayah tersebut merupakan tempat tumbuh dan berkembangnya terumbu karang yang sangat rapuh, serta menjadi tempat tinggal beraneka ragam jenis hewan laut yang dilindungi dan bernilai tinggi di mata dunia.
Kontaminasi dari sisa muatan kapal hanyut ini mampu mematikan terumbu karang dalam waktu singkat, merusak tempat pembiakan, serta mengganggu siklus kehidupan alam yang telah terbentuk selama ribuan tahun.
Kerusakan semacam ini tidak dapat dipulihkan hanya dalam waktu beberapa tahun, bahkan bisa berarti hilangnya kekayaan alam yang tidak tergantikan untuk selamanya.