Meski demikian, Amalia menegaskan bahwa peluang pembangunan di Papua Barat Daya masih sangat terbuka. Ia menyoroti potensi sektor unggulan yang bisa menjadi motor pertumbuhan ekonomi, terutama sektor perikanan.
“Sebanyak 48,82 persen ekspor Papua Barat Daya berasal dari ikan. Ini menunjukkan kekuatan besar di sektor kelautan,” jelasnya.
Baca Juga:
BPS Catat Indonesia Impor Emas 2,5 Ton April 2026, dari Hongkong-Australia dan UEA
Selain itu, potensi perikanan lainnya seperti udang tangkap laut menempatkan Papua Barat Daya sebagai salah satu daerah penghasil terbesar di Indonesia, setelah Sulawesi Selatan dan Maluku. Tak kalah penting, potensi sagu di wilayah Kabupaten Sorong Selatan juga disebut sangat besar, dengan ratusan ribu hektare hutan sagu yang belum tergarap optimal.
Kepala BPS RI menekankan bahwa kunci utama untuk menekan kemiskinan dan pengangguran, adalah mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berbasis potensi lokal, serta memperluas intervensi kebijakan yang tepat sasaran.
“Potensi Papua Barat Daya luar biasa. Tinggal bagaimana kita dorong agar pertumbuhan ekonomi bisa lebih tinggi dan dirasakan oleh seluruh masyarakat,” demikian Amalia.
Baca Juga:
Abdul Fikri Faqih: Sensus Ekonomi 2026 Harus Ungkap Kondisi UMKM Secara Nyata
[Redaktur: Alpredo Gultom]