Di sektor ekonomi, Bupati menyebut: "Lebih dari 100 kampung mandiri pangan telah terbentuk." Fakta: Angka 100 terdengar fantastis, namun kosong makna. Dari total 117 kampung di Raja Ampat, publik tidak pernah diberitahu kampung mana saja yang dimaksud.
Tidak ada data valid, tidak ada nama kampung spesifik, dan tidak ada bukti nyata kemandirian ekonomi di lapangan. Klaim ini hanyalah angka statistik yang disusun rapi untuk terdengar mengesankan, tanpa substansi yang bisa dipertanggungjawabkan.
Baca Juga:
Kepala Kampung Terpilih Reni di Raja Ampat Dicoret dari Daftar Pelantikan, Warga Ancam Tempuh Jalur Hukum
Kesimpulan: Pidato yang Menguap
Pidato HUT ke-23 Raja Ampat ini bagaikan ilusi optik politik. Enak didengar di telinga saat perayaan, namun "hilang dalam waktu sesingkat-singkatnya" ketika warga kembali menghadapi realitas isolasi, pengangguran, dan ketidakpastian ekonomi. Pemerintah seharusnya tidak hanya pandai merangkai kata di atas kertas, melainkan jujur dalam melihat fakta lapangan yang masih jauh dari kata "maju".
[Redaktur: Hotbert Purba]