2. Konektivitas Udara: Janji yang Tak Pernah Mendarat
Masih soal konektivitas, Bupati mengklaim: "Seluruh distrik terhubung melalui jalur udara."
Fakta: Ini adalah "kebenaran" yang hanya hidup di atas kertas pidato.
Baca Juga:
Kepala Kampung Terpilih Reni di Raja Ampat Dicoret dari Daftar Pelantikan, Warga Ancam Tempuh Jalur Hukum
Sejak Raja Ampat berdiri hingga usianya menginjak 23 tahun, realitasnya tetap sama, tidak ada akses transportasi udara yang menghubungkan 24 distrik secara menyeluruh. Bandara yang ada hanya melayani Waisai-Kabare, sementara distrik-distrik lain yang jauh tetap terisolasi. Klaim "seluruh distrik terhubung" adalah ilusi yang jauh dari logika penerbangan di wilayah kepulauan.
3. Janji Tenaga Kerja Lokal vs Realitas Tambang Nikel
Terkait pemberdayaan SDM, Bupati berjanji: "Putra-putri daerah ini punya tempat untuk tumbuh. Serapan tenaga kerja lokal terus meningkat melampaui target."
Baca Juga:
Bukan di Pelabuhan, Bangkai Kapal Justru "Berlabuh" di Atas Karang Raja Ampat
Fakta: Realitas menampik keras janji manis tersebut. Lihat saja sektor pertambangan, salah satu penyumbang pendapatan daerah terbesar.
Di PT Gag Nikel, misalnya, kekecewaan mendalam dirasakan warga sekitar. Perusahaan ini nyatanya gagal menyerap tenaga kerja lokal secara signifikan. Warga merasa disisihkan di tanah leluhur mereka sendiri, bertolak belakang dengan narasi "melampaui target" yang disampaikan Bupati.
4. Kampung Mandiri Pangan: Angka Tanpa Wajah