Dengan sistem pembayaran yang modern dan tertib, diharapkan distribusi pala berjalan lebih lancar, reputasi komoditas tetap terjaga, dan perekonomian daerah semakin berkembang.
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST., MT., menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan terobosan pelayanan yang sejak lama di tunggu-tunggu untuk memberikan kemudahan akses dalam menciptakan sistem pembayaran retribusi yang lebih sederhana, cepat, dan akuntabel serta dilakukan sendiri oleh pelaku usaha pala.
Baca Juga:
Pemberitahuan Program Peminatan Pala Unggul 1.000 Ha, Perkuat Hilirisasi Komoditas Unggulan Daerah Fakfak
Ia menyampaikan bahwa retribusi pala selama ini telah memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun demikian, pembenahan sistem pembayaran tetap perlu dilakukan sebagai langkah strategis pemerintah daerah dalam menciptakan tata kelola perdagangan yang lebih tertib, transparan, dan profesional.
Menurutnya, mekanisme pembayaran melalui Virtual Account sangat perlu untuk mempercepat pelayanan administrasi, demikian juga meminimalisir hambatan birokrasi serta memberikan kepastian dan kenyamanan bagi para pedagang grosir antar pulau.
Sambungnya, dengan sistem yang lebih sederhana dan cepat ini, 8 (delapan) pelaku usaha pedagang besar dan grosir tidak lagi perlu antri di bank atau membawa surat tanda setoran secara manual, melainkan cukup menggunakan telepon genggam melalui layanan mobile banking sehingga proses pembayaran retribusi menjadi lebih efisien dan terkontrol.
Baca Juga:
Pemkab Fakfak Terima Piagam Penetapan Festival Pesona Kota Pala Fakfak Berbasis HAKI Kekayaan Intelektual dan Indikasi Geografis Pala Tomandin Fakfak
Lebih lanjut, Kepala dinas mendorong para pedagang untuk terus meningkatkan standar mutu dan kualitas pala sesuai kebutuhan pasar nasional maupun internasional karena pedagang besar menjadi muara keluarnya produk Fakfak dalam perdagangan antar pulau.
Ia mengakui bahwa tantangan yang masih dihadapi antara lain praktik panen yang belum tepat waktu serta penanganan pascapanen yang belum optimal, yang berdampak pada kualitas produk.
“Kita harus menjaga reputasi Pala Tomandin sebagai produk unggulan daerah yang sejak lama dikenal memiliki kualitas terbaik. Reputasi ini adalah aset bersama yang harus kita rawat dengan sistem yang tertib, mutu yang terjaga, dan komitmen bersama antara pemerintah dan pelaku usaha,” ujarnya.