Diperkirakan pengeboran ini akan memakan waktu sekitar satu setengah bulan dengan tetap mengedepankan aspek Kesehatan, Keselamatan Kerja, dan Lingkungan (K3L).
“Dengan pendekatan konsep eksplorasi yang baru dan ditunjang teknologi terkini menjadikan Karim sebagai prospek siap bor yang akhirnya tajak pada hari ini. Sumur ini memiliki nilai strategis yang tinggi, hasil dari sumur ini akan membuka potensi pengembangan lapangan di sekitarnya. Ini merupakan langkah kami untuk mengoptimalkan potensi migas di wilayah Papua Barat Daya dan sebagai upaya memperkuat peluang penemuan cadangan migas baru demi mendukung pencapaian ketahanan energi nasional,” jelas President RH Petrogas Companies in Indonesia, Ferry Hakim.
Baca Juga:
Pertamina EP Papua Field Sigap Lakukan Penanganan Kejadian Ceceran Minyak di Km 17 Sorong
Selain itu, dalam masa persiapan pelaksanaan pengeboran ini juga telah memberikan dampak positif bagi masyarakat di sekitar area pengeboran, salah satunya di bidang infrastruktur. Akses masyarakat menjadi lebih mudah setelah Petrogas (Basin) Ltd. merenovasi jembatan Klagana, empat jembatan penghubung lainnya, dan akses dari dan menuju kampung di sekitar lokasi sumur.
Selain itu, Petrogas (Basin) Ltd. juga memberi kesempatan bagi para tenaga kerja asal kampung di sekitar lokasi sumur untuk berkontribusi langsung sebagai tenaga kerja tambahan non teknis dalam masa pengeboran ini.
Sebagai Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), Petrogas (Basin) Ltd bersama PT Pertamina Hulu Energi Salawati Basin menjadi bagian kepemilikan di Wilayah Kerja Kepala Burung.
Baca Juga:
Dukung Net Zero Emission, ALPERKLINAS Tekankan Pentingnya Kerja Sama PLN dan SKK Migas
Petrogas (Basin) Ltd bertindak sebagai operator Wilayah Kerja Kepala Burung yang dalam melaksanakan operasinya berada dalam pengawasan dan pengendalian SKK Migas.
[Redaktur: Hotbert Purba]