PAPUA-BARAT.WAHANANEWS.CO, Waisai – Hanya berjalan sekitar 4–5 bulan menempati Pasar Baru Snon Bukor, puluhan pedagang dari Pasar Mbilim Kayam Kota Waisai, Raja Ampat, memilih kembali berjualan di tempat asal sekitar pasar lama.
Keputusan ini diambil karena usaha semakin sulit, omzet anjlok tajam, dan keuntungan hilang sehingga tidak lagi mampu menutupi biaya operasional maupun modal.
Baca Juga:
Klaim Puskoppas Soal 40 % Pasar Tradisional Kumuh Keliru: Kepedulian Gubernur Pramono Patut Diapresiasi
Fenomena ini dinilai sebagai respons ekonomi mendasar, bukan sekadar penolakan penataan kota. Pedagang menyebut lokasi, arus pengunjung, dan perputaran modal menjadi kunci bertahannya usaha pasar tradisional.
Tampak pedagang kembali berjualan di bahu Jalan Pasar Lama.
Lokasi tidak strategis, pembeli hilang
Baca Juga:
Stok Melimpah Tapi Harga Tak Terkendali, YLKI Desak Pemerintah Tuntaskan Polemik Beras
Pasar lama Mbilim Kayam berada di pusat kota, dekat kawasan wisata WTC, terminal laut, dan pemukiman padat penduduk. Sementara Pasar Baru Snon Bukor letaknya agak jauh dari jalur utama dan pusat keramaian. Akses jalan belum nyaman dan belum terintegrasi dengan rute transportasi umum, sehingga pembeli jarang datang.
“Dalam ekonomi pasar tradisional, lokasi adalah aset utama. Semakin mudah dijangkau dan ramai lalu lintas, semakin cepat barang laku,” kata salah satu pedagang. Kebiasaan belanja masyarakat di tempat lama juga sulit berubah dalam waktu singkat, apalagi masih ada pedagang yang bertahan di pasar lama.
Modal tertekan, keuntungan hilang