PAPUA-BARAT.WAHANANEWS.CO, Fakfak - Pala Tomandin merupakan salah satu komoditas unggulan daerah Fakfak yang memiliki cita rasa, aroma, dan kualitas yang khas. Keunikan inilah yang menjadikan Pala Tomandin Fakfak mulai dikenal hingga ke pasar nasional bahkan internasional.
Namun, dalam menghadapi perkembangan pasar global yang semakin kompetitif, tidak bisa hanya mengandalkan nama besar dan sejarah.
Baca Juga:
Sinergi Pemprov Papua Barat dan Dinas Perkebunan Fakfak Bangun 2 Solar Dryer Pala, Penguatan Hilirisasi Pala Tomandin
Memastikan bahwa mutu dan kualitas pala Fakfak senantiasa harus terjaga dan bahkan semakin meningkat.
Demikian disampaikan Staf Khusus Bupati Fakfak, Charles Kambu, S.Sos, M.Si saat membuka acara sosialisasi mutu dan kualitas Pala Tomandin Fakfak yang diikuti oleh 20 peserta dari perwakilan pelaku usaha pala grosir perdagangan antar pulau dan pengepul pala di Ruang Rapat Tomandin Dinas Perkebunan Fakfak, pada Rabu (12/11/25).
Sosialisasi tersebut menghadirkan 2 Narasumber penting yakni Zhang Jie, Direktur PT. Semesta Trading Internasional Buyer dari Tiongkok dan Ibu Sofi Ekawati, Direktris PT. Global Spcies Papua.
Baca Juga:
Pembahasan Draft Perbup RAD Pala dan RAD Perkebunan Sawit Tahun 2025–2029 dalam Mendukung RPJMD Fakfak Membara 2025–2029
Dikatakan Zhang Jie, yang cukup pandai berbahasa Indonesia bahwa saat ini negaranya sedang membutuhkan Pala Tomandin Fakfak asal Papua karena memiliki khas khusus yang unggul di industri pengolahan rempah-rempah namun membutuhkan produk yang benar-benar berkualitas.
Sambungnya, sengaja ia hadir atau datang langsung di Fakfak karena ingin mengetahui sumber produksinya, melihat secara langsung dari dekat cara pengolahan dari proses budidaya hingga pasca panen dan ingin memberitahu kepada pelaku usaha di Fakfak untuk selalu menjaga kualitas pala.
"Saat ini harga pala dunia di beli dengan harga yang baik, tergantung mutu dan kualitas palanya," kata Zhang Jie.
Kata dia, di Tiongkok, khusus di Provinsi Guanzi harga pala kulit mencapai 20 – 27 CNY Yuan Renminbi atau setara dengan Rp 48.800 – Rp 63.000/kg tergantung kualitas.
"Jadi sebenarnya harga pala bergantung pada mutu dan kualitas, sementara harga hanya mengikuti kualitas saja. Jadi kalau produk di jaga dengan baik pada saat panen dan pasca panen, harga pun akan menjadi baik," ujarnya.
Kehadirannya di Fakfak bukan sebagai pembeli pala, namun ingin memberikan pemahaman secara baik dalam proses pengolahan pala secara berkelanjutan yang perlu dikedepankan karena saat ini China termasuk pembeli pala terbesar di Asia.
Namun dari catatan hasil eksport pala belum memenuhi kualitas eksport, bahkan rata-rata pala yang diterima china dari Fakfak saat ini masih jauh di bawah standar akibat banyak pala yang masih muda, jadi cara proses pengering dan pemisahan yang mempengaruhi mutu dan kualitas.
Oleh karenanya dalam materi yang disampaikan diharapkan pelaku usaha perlu merubah pola pengolahan dengan sistem yang lebih modern untuk mendapatkan kualitas pla yang baik sehingga mampu bersaing di pasar china.
Sementara Narasumber Sofi Ekawati dari Global Spicies Papua yang menjadi salah satu penyedia produk pala kebutuhan eksport mengharapkan agar proses pengolahan pala dimulai dengan menunggu waktu panen yang tepat, sehingg buah biji pala yang dihasilkan benar-benar berkualitas dan dapat dijual dengan nilai tinggi.
Saat ini global spices Papua sudah membeli pala dengan sistem satuan kilogram dengan harga RP 45.000/kg atau setara dengan 1.000 biji senilai Rp 780.000 dengan kondisi pala tua kondisi mentah yang sangat menguntungkan petani pala jika benar-benar palanya matang petik atau sudah waktunya untuk di panen.
Hal ini dilakukan atas dasar permintaan pasar global dengan standart kualitas yang ditentukan, sehingga pelaku bisnis pala yang ada hendaknya memperhatikan mutu dan kualitas pala yang sangat berpengaruh terhadap harga jual.
Sementara, Plt. Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST, MT dalam kesempatan memandu acara ini menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Fakfak terus berupaya mendorong pengembangan komoditas unggulan daerah, salah satunya melalui Program Strategis Pala Unggul Fakfak.
Program ini merupakan wujud komitmen pemerintah dalam mengoptimalkan potensi sumber daya lokal agar memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat, sekaligus memperkuat posisi Fakfak sebagai daerah penghasil pala terbaik di Indonesia.
Dalam pelaksanaannya, program ini tidak hanya menitikberatkan pada peningkatan produksi, tetapi juga pada peningkatan mutu dan kualitas hasil pala.
"Kualitas menjadi kunci utama untuk memastikan bahwa Pala Tomandin Fakfak mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional. Oleh karena itu, sosialisasi mutu dan kualitas pala menjadi langkah strategis yang sangat penting dalam mendukung keberhasilan program tersebut," kata Widhi Asmoro Jati dalam keterangan dikutip Selasa (18/11/2025).
Melalui kegiatan sosialisasi tersebut, para pelaku usaha grosir dan pengepul, sebagai bagian penting dari rantai tata niaga pala, dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang standar mutu, tata cara penanganan pascapanen, serta sistem perdagangan yang berdaya saing dan berkelanjutan.
"Dengan pemahaman yang sama di seluruh tingkatan pelaku usaha, diharapkan tidak ada lagi perbedaan perlakuan terhadap produk pala yang dapat menurunkan kualitas dan citra Pala Fakfak di pasaran," jelas Widhi.
Selain itu, sosialisasi ini juga berfungsi untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, agar seluruh pihak memiliki komitmen yang sama dalam menjaga reputasi dan nilai jual pala Fakfak.
Kegiatan ini juga menjadi wadah koordinasi sekaligus media edukasi untuk menyatukan langkah menuju penerapan sertifikasi mutu dan indikasi geografis (IG), yang merupakan bagian penting dari arah kebijakan Program Strategis Pala Unggul Fakfak.
Ia juga sampaikan bahwa tujuan utama dari kegiatan sosialisasi untuk menyamakan persepsi, memperkuat komitmen, dan meningkatkan pemahaman bersama tentang pentingnya standar mutu, pengolahan pascapanen, serta tata niaga yang berdaya saing.
Harapannya, para pelaku usaha grosir dan pengepul pala dapat menjadi garda terdepan dalam menjaga kualitas produk.
"Mari kita pastikan setiap butir pala yang keluar dari Fakfak mencerminkan kualitas terbaik, sehingga mampu memberi nilai tambah bagi petani, pelaku usaha, dan daerah kita tercinta," imbaunya.
Ia berharap pelaku usaha, dan seluruh pihak yang terlibat dapat memahami pentingnya standarisasi mutu, proses pascapanen yang baik, serta strategi pemasaran berkelanjutan agar pala Fakfak semakin dikenal dan bernilai tinggi.
"Saya mengajak kita semua untuk bersama-sama menjaga identitas dan keaslian pala Tomandin sebagai kebanggaan masyarakat Fakfak. Jadikan pala bukan hanya sebagai sumber penghidupan, tetapi juga sebagai simbol kearifan lokal dan potensi ekonomi daerah yang berkelanjutan dan menjadi minat kebutuhan pasar global karena mutu dan kualitasnya," demikian Widhi Asmoro Jati.
[Redaktur: Hotbert Purba]