- Kerugian Ekonomi: Estimasi kerugian mencapai miliaran rupiah per bulan dari sektor retribusi, sewa kapal, homestay, dan jasa pemandu.
- Perpecahan Sosial: Konflik ini membuat hubungan antar warga adat Kawei menjadi retak dan tidak harmonis.
- Citra Buruk: Raja Ampat yang dikenal sebagai surga dunia, kini dikenal juga sebagai daerah yang rawan konflik dan blokade.
HARAPAN MASYARAKAT
Baca Juga:
Wisatawan Asing Diduga Disandera, Ada Apa di Pulau Kawei Raja Ampat?
Masyarakat luas dan pelaku industri pariwisata menuntut Bupati Raja Ampat beserta jajarannya untuk segera bekerja ekstra keras. Jangan biarkan Wayag tertutup selamanya hanya karena ketidakmampuan birokrasi menyelesaikan masalah.
Padahal, pencabutan IUP merupakan keputusan hukum yang benar demi menyelamatkan laut kita dari sedimentasi dan kerusakan. Tapi cara menyikapinya harus bijak. Pemda harusnya bisa merangkul semua pihak, bukan membiarkan masalah ini berlarut sampai setahun, dan Pulau Wayag jadi korban ego sektoral.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada jadwal pasti kapan Pulau Wayag akan dibuka kembali, sementara tanda tanya besar menghantui: Apakah Pemda benar-benar tidak mampu, atau memang tidak mau menyelesaikannya?.
Baca Juga:
Institut USBA dan Pelajar di Raja Ampat Tanam 1.500 Bibit Mangrove di Kampung Wisata Arborek
[Redaktur: Hotbert Purba]