TERJADI PERBEDAAN PILIHAN: TAMBANG VS PARIWISATA
Pasca pencabutan izin tersebut, terjadi perpecahan di kalangan masyarakat adat Kawei. Muncul dua kubu dengan kepentingan yang saling bertolak belakang:
Baca Juga:
Wisatawan Asing Diduga Disandera, Ada Apa di Pulau Kawei Raja Ampat?
1. Kubu Pendukung Pariwisata & Konservasi
Sebagian besar masyarakat dan kelompok peduli lingkungan mendukung penuh pencabutan izin tambang. Mereka menyadari bahwa kerusakan lingkungan akibat tambang akan menghancurkan mata pencaharian jangka panjang di sektor pariwisata yang jauh lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
2. Kubu Pendukung Tambang
Di sisi lain, terdapat kelompok masyarakat yang merasa dirugikan dengan hilangnya izin tambang tersebut. Mereka yang selama ini mendapatkan keuntungan ekonomi langsung dari keberadaan perusahaan tambang merasa kehilangan sumber pendapatan. Kubu inilah yang kemudian menaruh kekecewaan dan menuntut agar izin tersebut dikembalikan atau mendapatkan kompensasi yang besar.
AKSI BLOKADE WAYAG: MEMBAYAR HUTANG DENGAN CARA SALAH
Baca Juga:
Institut USBA dan Pelajar di Raja Ampat Tanam 1.500 Bibit Mangrove di Kampung Wisata Arborek
Alihkan mencari solusi dialog yang baik dengan pemerintah pusat atau mencari skema kompensasi yang legal, kubu pendukung tambang justru mengambil langkah yang merugikan banyak pihak. Mereka melakukan aksi blokade total terhadap akses masuk ke Pulau Wayag.
Logika yang mereka gunakan adalah menekan Pemda dan pelaku usaha pariwisata agar berpihak pada tuntutan mereka untuk mengembalikan aktivitas tambang. Padahal, Wayag adalah aset nasional dan dunia yang tidak bersalah, namun justru dijadikan "sandera" dalam konflik kepentingan ini.
Sejak saat itu, kapal wisata dilarang sandar, turis tidak bisa naik ke lokasi, dan roda ekonomi wisata di sana mati suri.