PAPUA-BARAT.WAHANANEWS.CO, Raja Ampat – Pesona keindahan Pulau Meoskun, ikon wisata favorit di Distrik Waigeo Selatan, Raja Ampat, kini ternoda oleh pemandangan yang memilukan.
Sebuah bangkai kapal terlihat "terparkir rapi" di atas hamparan terumbu karang yang luas di perairan pulau tersebut, sebuah lokasi yang seharusnya menjadi surga bagi wisatawan yang datang untuk menikmati gala dinner di atas pasir putih sambil menyaksikan ribuan burung kelelawar pulang ke sarang.
Baca Juga:
Bangkai Kapal Hanyut 2 Minggu Ancaman Ekosistem Laut Meosmansar, Warga Desak Pihak Berwenang Bertindak
Pantauan drone pada Sabtu (16/5) menunjukkan dengan jelas posisi kapal yang kandas tersebut.
Ironisnya, kapal ini tidak berada di tempat penampungan atau pelabuhan yang aman, melainkan diduga sengaja dikandaskan hingga menghantam dan menindih ekosistem karang yang menjadi nyawa pariwisata Raja Ampat.
Insiden ini mempertajam kritik terhadap kinerja otoritas terkait, termasuk Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Raja Ampat.
Baca Juga:
Ahli Waris Layangkan Somasi Resmi kepada BRI Unit Waisai, Tuntas Kejelasan Status Kredit dan Pengembalian Sertifikat Tanah
Tampak bangkai kapal menghantam Terumbu Karang
Alih-alih melakukan evakuasi dan penyelamatan aset serta lingkungan, langkah yang diambil justru dianggap menciptakan masalah baru.
Kapal yang seharusnya diamankan, kini menjadi "paku" yang merusak terumbu karang di salah satu titik biodiversitas laut terkaya di dunia.
Pulau Meoskun dikenal sebagai destinasi wajib bagi kapal pesiar dan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Waisai.
Keindahan bawah lautnya menjadi daya tarik utama. Namun, keberadaan bangkai kapal ini dikhawatirkan merusak citra pariwisata Raja Ampat yang selama ini dijaga ketat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kapal tersebut telah menimbulkan kerusakan fisik yang signifikan pada karang.
Publik kini menuntut kejelasan dari Pemkab Raja Ampat dan instansi teknis mengenai alasan di balik keputusan mengandaskan kapal tersebut serta langkah konkret apa yang akan diambil untuk mengevakuasi bangkai kapal sebelum kerusakan karang meluas menjadi bencana yang tidak bisa diperbaiki.
[Redaktur: Hotbert Purba]