Seperti yang pernah diingatkan Anggota DPR RI, Rico Sia, pariwisata Raja Ampat itu tumbuh dan hidup dari tiga hal: keindahan, kebersihan, dan kenyamanan. Jika tiga pilar itu runtuh di ibu kotanya sendiri, bagaimana kita bisa meyakinkan wisatawan dunia bahwa Raja Ampat siap menjadi destinasi premium?
Wisatawan pertama kali menginjakkan kaki di Waisai. Kesan pertama merekalah yang menentukan. Jika kesan pertama adalah kemacetan, sampah, dan kesemrawutan, maka narasi "surga dunia" itu ternoda sejak di pintu gerbang.
Baca Juga:
Belajar dari Sejarah: Minyak Puluhan Tahun di Salawati dan Sorong, Di Mana Kesejahteraan Masyarakat Adat?
Redaksi memandang, inilah momentum bagi Pemerintah Daerah Raja Ampat untuk bertindak tegas dan terukur. Penataan Kota Waisai sebagai Kota Hijau dan Kota Bersih adalah visi yang mulia dan harus kita dukung bersama.
Untuk itu, kami merekomendasikan:
1. Penegakan Aturan Tanpa Pandang Bulu: Satpol PP bersama Dinas Perindag dan Dinas Lingkungan Hidup harus hadir setiap hari, bukan hanya saat ada sidak. Taman Kofarkor harus steril dari aktivitas jual beli. Kembalikan fungsinya sebagai ruang terbuka hijau.
Baca Juga:
Persimpangan Krusial: Menentukan Masa Depan Raja Ampat dan Generasi Mendatang Ditengah Tantangan Investasi
2. Evaluasi Total Pasar Baru: Libatkan pedagang. Dengar keluhan mereka. Berikan insentif, fasilitasi transportasi, dan pastikan pasar baru benar-benar hidup dengan pembeli. Relokasi tidak bisa hanya memindahkan orang, tapi juga memindahkan keramaian.
3. Solusi Manusiawi dan Berkeadilan: Penertiban jangan dengan kekerasan. Berikan tenggat waktu yang jelas, sosialisasi yang masif, dan solusi alternatif. Pedagang adalah rakyat kita yang mencari nafkah. Tertibkan dengan hati, tapi tetap tegas pada prinsip.
4. Jaga Konsistensi: Kebersihan bukan kegiatan seremonial. Butuh petugas kebersihan yang siaga, tempat sampah yang memadai, dan sanksi bagi yang membuang sampah sembarangan di kawasan taman dan pasar.