PAPUA-BARAT.WAHANANEWS.CO, Raja Ampat - Semrawut dan terkesan kumuh, itulah potret yang kami saksikan di jantung Ibu Kota Kabupaten Raja Ampat. Bukan karena kurangnya keindahan alam, tapi karena tertib kota yang perlahan runtuh di bahu-bahu jalan utama.
Pedagang pasar, yang seharusnya menjadi nadi ekonomi rakyat, kini justru menjadi simbol kekumuhan kota. Ironisnya, mereka tidak lagi hanya menempati bekas Pasar Lama Waisai, lapak-lapak darurat kini merangsek masuk, menduduki Taman Kofarkor, ruang publik yang seharusnya menjadi paru-paru dan wajah hijau di pusat kota.
Baca Juga:
Belajar dari Sejarah: Minyak Puluhan Tahun di Salawati dan Sorong, Di Mana Kesejahteraan Masyarakat Adat?
Di atas taman yang dibangun dengan uang rakyat untuk keindahan, kini berdiri terpal-terpal plastik, tumpukan sampah sisa dagangan, dan genangan air bercampur limbah. Taman yang seharusnya menjadi tempat warga menghirup udara segar dan anak-anak bermain, telah berubah menjadi pasar tumpah yang tidak tertata.
Kita tidak menutup mata. Pemerintah Daerah Kabupaten Raja Ampat telah berupaya membangun dan merelokasi pedagang ke pasar yang baru yang lebih representatif. Sebuah ikhtiar yang patut diapresiasi.
Namun faktanya di lapangan, relokasi tersebut belum membuahkan hasil yang maksimal. Pasar baru masih sepi, sementara bahu jalan dan taman kota kian sesak. Ada mata rantai yang putus antara kebijakan dan pengawasan. Ada kekosongan penegakan yang membuat pedagang lebih nyaman kembali ke pusat kota.
Baca Juga:
Persimpangan Krusial: Menentukan Masa Depan Raja Ampat dan Generasi Mendatang Ditengah Tantangan Investasi
Pertanyaannya: mengapa pedagang enggan bertahan di pasar baru? Apakah aksesnya sulit, retribusinya memberatkan, atau sosialisasinya kurang? Ini pekerjaan rumah yang harus dijawab Pemda dengan evaluasi jujur dan dialog terbuka, bukan sekadar imbauan.
Pertama, ini soal keselamatan. Ruas jalan utama Waisai yang tidak terlalu lebar kini semakin menyempit akibat lapak pedagang dan parkir pembeli yang sembarangan. Arus lalu lintas tersendat, potensi kecelakaan lalu lintas sangat tinggi. Kita tidak ingin menunggu ada korban, baik pedagang maupun pembeli, baru kemudian tertib.
Kedua, ini soal marwah. Waisai adalah Ibu Kota Kabupaten Raja Ampat. Raja Ampat bukan kabupaten biasa. Ia adalah etalase Indonesia di mata dunia, pusat keindahan dan keanekaragaman hayati dunia, The Last Paradise. Apakah wajah ibu kotanya pantas terlihat kumuh dan tidak tertata seperti ini?
Seperti yang pernah diingatkan Anggota DPR RI, Rico Sia, pariwisata Raja Ampat itu tumbuh dan hidup dari tiga hal: keindahan, kebersihan, dan kenyamanan. Jika tiga pilar itu runtuh di ibu kotanya sendiri, bagaimana kita bisa meyakinkan wisatawan dunia bahwa Raja Ampat siap menjadi destinasi premium?
Wisatawan pertama kali menginjakkan kaki di Waisai. Kesan pertama merekalah yang menentukan. Jika kesan pertama adalah kemacetan, sampah, dan kesemrawutan, maka narasi "surga dunia" itu ternoda sejak di pintu gerbang.
Redaksi memandang, inilah momentum bagi Pemerintah Daerah Raja Ampat untuk bertindak tegas dan terukur. Penataan Kota Waisai sebagai Kota Hijau dan Kota Bersih adalah visi yang mulia dan harus kita dukung bersama.
Untuk itu, kami merekomendasikan:
1. Penegakan Aturan Tanpa Pandang Bulu: Satpol PP bersama Dinas Perindag dan Dinas Lingkungan Hidup harus hadir setiap hari, bukan hanya saat ada sidak. Taman Kofarkor harus steril dari aktivitas jual beli. Kembalikan fungsinya sebagai ruang terbuka hijau.
2. Evaluasi Total Pasar Baru: Libatkan pedagang. Dengar keluhan mereka. Berikan insentif, fasilitasi transportasi, dan pastikan pasar baru benar-benar hidup dengan pembeli. Relokasi tidak bisa hanya memindahkan orang, tapi juga memindahkan keramaian.
3. Solusi Manusiawi dan Berkeadilan: Penertiban jangan dengan kekerasan. Berikan tenggat waktu yang jelas, sosialisasi yang masif, dan solusi alternatif. Pedagang adalah rakyat kita yang mencari nafkah. Tertibkan dengan hati, tapi tetap tegas pada prinsip.
4. Jaga Konsistensi: Kebersihan bukan kegiatan seremonial. Butuh petugas kebersihan yang siaga, tempat sampah yang memadai, dan sanksi bagi yang membuang sampah sembarangan di kawasan taman dan pasar.
Mari kita selamatkan marwah ibu kota surga dunia ini. Penataan kota yang baik bukan untuk bupati atau pejabat, tapi untuk kita semua, untuk anak cucu kita, dan untuk dunia yang menaruh harapan pada Raja Ampat.
[Redaktur: Hotbert Purba]