Kejadian ini adalah ironi terbesar. Raja Ampat dijual ke dunia sebagai kawasan terlindung dan pusat keanekaragaman hayati, tapi nyatanya?. Kapal terlantar lebih dari tiga minggu tak ada tindakan, lalu dibakar di atas karang hidup.
Hal ini bukan penanganan, ini perusakan yang disahkan. Asap, sisa pembakaran, dan zat beracunnya akan merembes ke air, membunuh karang, ikan, dan merusak sumber kehidupan warga serta daya tarik wisata kita. Di mana komitmen pelestarian yang sering digembar-gemborkan?
Baca Juga:
Kapal Terbakar Hanyut Ancam Tabrak Pasir Timbul, Tim Yenatar Resort Berjuang Sendirian Sebelum Ada Bantuan
Kejadian ini membuktikan lemahnya kesiapan dan koordinasi antarinstansi. Kalau sejak 1 Mei sudah diketahui, seharusnya sudah ada rencana evakuasi. Mengapa harus berakhir dengan pembakaran? Apakah tidak ada cara lain selain merusak lingkungan? Ini akan meninggalkan dampak jangka panjang yang sulit diperbaiki.
Banyak pihak mempertanyakan komitmen pelestarian di kawasan yang menjadi tumpuan ekonomi daerah ini.
Raja Ampat mendunia karena keindahan bawah lautnya, namun peristiwa ini menjadi bukti nyata adanya kesenjangan besar antara promosi pariwisata dengan penanganan nyata terhadap masalah lingkungan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak berwenang mengenai alasan diambilnya langkah pembakaran di lokasi tersebut serta dampak jangka panjang yang akan ditimbulkannya.
Baca Juga:
Dua Lokasi, Satu Masalah: Cerminan Tata Kelola Laut di Raja Ampat Lemah
Peristiwa ini menjadi pelajaran pahit: bahwa menjaga keindahan Raja Ampat bukan hanya soal menarik kunjungan wisatawan, tetapi juga menjamin setiap tindakan yang dilakukan di perairan ini tidak menghancurkan kekayaan alam yang menjadi daya tarik utamanya.
[Redaktur: Hotbert Purba]