Uskup Bernardus mengajak umat memaknai 132 Tahun Misi Katolik bukan sekadar seremoni, tetapi momentum menghidupkan kembali semangat para misionaris yang datang ke Papua dengan pengorbanan besar.
Ia mengenang para misionaris MSC, Fransiskan, Agustinian, dan tarekat lain yang hidup sederhana demi melayani masyarakat Papua.
Baca Juga:
Alumni Don Bosco Fakfak Jadi Uskup: “Kami Jadi Seperti Sekarang Karena Guru”
“Mereka datang ke tempat yang masih hutan rimba, hidup sederhana, makan sagu dan keladi, karena mereka diutus oleh Kristus sendiri,” ungkapnya.
Ia mengajak umat keluar dari zona nyaman dan ketakutan, serta hadir di tengah penderitaan manusia Papua. Menutup khotbah, ia menekankan pentingnya menjaga hutan, tanah adat, budaya, dan martabat manusia Papua agar tidak hancur oleh kepentingan ekonomi dan kekuasaan.
“Tanah Papua adalah tanah yang indah. Kita harus mempertahankan hutan, tanah, manusia, dan budaya yang ada di negeri ini,” tuturnya.
Baca Juga:
132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua, YPPK Fakfak Libur Dua Hari
Suasana haru menyelimuti Pulau Bonyom ketika seluruh umat berdiri menyanyikan lagu “Hai Tanahku Papua” sebagai simbol cinta terhadap tanah Papua dan komitmen menjaga warisan leluhur serta iman yang telah diwariskan selama 132 tahun Gereja Katolik di Bumi Cenderawasih.
[Redaktur: Hotbert Purba]