Uskup Timika menekankan pentingnya persatuan di Tanah Papua yang beragam suku, bahasa, dan budaya. Perbedaan, katanya, bukan alasan untuk bermusuhan, melainkan kekayaan yang harus diselesaikan dengan iman, harapan, dan cinta.
Ia mencontohkan konsili pertama di Yerusalem, di mana Petrus dan Paulus menyelesaikan perbedaan pandangan melalui dialog dan persaudaraan. Dari situ, Gereja belajar menyelesaikan persoalan dengan kasih.
Baca Juga:
Alumni Don Bosco Fakfak Jadi Uskup: “Kami Jadi Seperti Sekarang Karena Guru”
Papua butuh keberanian moral
Bagian paling kuat dari khotbahnya menyoroti situasi sosial Papua saat ini. Uskup Bernardus menyerukan seluruh umat Katolik, pemimpin daerah, hingga aparat pemerintahan untuk berani menyuarakan kebenaran dan memperjuangkan keadilan.
“Kita harus memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, keutuhan ciptaan, dan keindahan alam Papua,” tegasnya.
Baca Juga:
132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua, YPPK Fakfak Libur Dua Hari
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak larut dalam arus kekuasaan dan kepentingan yang merusak alam serta martabat manusia Papua.
"Jangan ikut arus penipuan dunia dan ideologi kekuasaan yang membabat habis hutan di Tanah Papua. Jangan takut mengatakan kebenaran. Takutlah hanya kepada Tuhan,” ujarnya di hadapan ribuan umat.
Pesan itu ditujukan khusus kepada pejabat pemerintahan, legislatif, yudikatif, hingga tokoh masyarakat yang hadir. Menurutnya, mereka semua adalah “misionaris” yang dipanggil menjaga kehidupan, membela hak asasi manusia, dan melindungi tanah Papua dari kepentingan oligarki dan kapitalisme yang merusak.