"Pendapatan dari sektor sumber daya alam di Swedia kemudian diinvestasikan kembali pada pendidikan, penelitian, inovasi teknologi, serta tata kelola pemerintahan yang transparan. Mereka menerapkan prinsip pengelolaan sumber daya berkelanjutan, sehingga pertumbuhan ekonomi berjalan seiring pelestarian lingkungan," kata David.
Ia menegaskan, kunci keberhasilan negara maju adalah pengembangan industri manufaktur dan diversifikasi ekonomi. Industri manufaktur meningkatkan nilai tambah komoditas melalui proses pengolahan sehingga menciptakan lapangan kerja, pendapatan daerah, pajak, dan peluang ekspor yang lebih besar.
Baca Juga:
Festival Pesona Raja Ampat Perlu Dikaji Kembali, Ini Masukan untuk Pemerintahan ORMAS
Dengan diversifikasi, suatu negara tidak bergantung pada satu sektor saja, melainkan mengembangkan pertanian, perikanan, manufaktur, pariwisata, teknologi, dan ekonomi kreatif. Struktur ekonomi yang beragam membuat negara lebih tangguh menghadapi krisis dan fluktuasi harga komoditas dunia.
Untuk konteks Raja Ampat, David menilai pembangunan ekonomi berkelanjutan sebaiknya tidak hanya berfokus pada eksploitasi sumber daya mineral.
"Raja Ampat memiliki keunggulan yang tidak dimiliki daerah lain. Pembangunan harus memanfaatkan pariwisata kelas dunia, perikanan berkelanjutan, UMKM, ekonomi kreatif, dan industri pengolahan lokal. Pendapatan dari pemanfaatan sumber daya alam wajib diinvestasikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, infrastruktur, teknologi, serta kapasitas masyarakat lokal," tegasnya.
Baca Juga:
Wakil Bupati Raja Ampat Hadiri Pembukaan Pra Lokakarya Kurikulum Program Studi D3 Ekowisata dan S1 Pariwisata UNIPA
Dengan tata kelola yang baik, diversifikasi ekonomi, dan komitmen kuat terhadap konservasi, ia meyakini Raja Ampat dapat mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
"Manfaat pembangunan harus bisa dinikmati oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Jangan sampai kita kaya hari ini, tapi miskin di masa depan," pungkasnya.
[Redaktur: Hotbert Purba]