PAPUA-BARAT.WAHANANEWS.CO, Raja Ampat - Pariwisata dan sumber daya mineral merupakan dua sektor strategis pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya di Raja Ampat. Namun kedua sektor ini memiliki karakter bertolak belakang yang menuntut kehati-hatian pemerintah dalam pengelolaannya.
Hal tersebut disampaikan pengamat pariwisata dan ekonomi berkelanjutan, David Dimara, S.S., M.S., Alumni University of Florida, Master di bidang Tourism, Hospitality, and Event Management.
Baca Juga:
Festival Pesona Raja Ampat Perlu Dikaji Kembali, Ini Masukan untuk Pemerintahan ORMAS
Menurut David, pariwisata sangat bergantung pada kelestarian alam, keanekaragaman hayati, dan citra kawasan konservasi dunia. Sementara kegiatan pertambangan, apabila tidak dikelola secara hati-hati, berpotensi memberikan dampak serius terhadap lingkungan.
"Oleh karena itu, pemerintah menghadapi tantangan besar untuk menciptakan keseimbangan antara investasi, perlindungan lingkungan, dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan di Raja Ampat," ujar David kepada papua-barat.wahananews.co melalui panggilan WhatsApp, Rabu 6 Agustus 2026
David mengingatkan, pengalaman beberapa negara menunjukkan kekayaan sumber daya alam tidak selalu berujung pada kemakmuran jangka panjang jika salah kelola.
Baca Juga:
Wakil Bupati Raja Ampat Hadiri Pembukaan Pra Lokakarya Kurikulum Program Studi D3 Ekowisata dan S1 Pariwisata UNIPA
Ia mencontohkan fenomena resource curse atau kutukan sumber daya alam yang dialami Venezuela, Nauru, dan Nigeria.
"Venezuela, Nauru, dan Nigeria pernah memperoleh pendapatan besar dari minyak dan fosfat. Tapi kemudian mereka mengalami tantangan serius akibat ketergantungan pada satu komoditas, lemahnya diversifikasi ekonomi, tata kelola yang kurang baik, serta minimnya investasi pada pendidikan, infrastruktur, dan pengembangan sumber daya manusia. Ini pelajaran penting bagi kita di Raja Ampat," jelasnya.
Sebaliknya dengan itu, Swedia menjadi contoh negara yang berhasil lepas dari kutukan tersebut. Negara Skandinavia itu tidak hanya mengekspor bahan mentah, tetapi mengolahnya menjadi produk manufaktur bernilai tambah tinggi seperti baja, kendaraan, dan mesin industri.
"Pendapatan dari sektor sumber daya alam di Swedia kemudian diinvestasikan kembali pada pendidikan, penelitian, inovasi teknologi, serta tata kelola pemerintahan yang transparan. Mereka menerapkan prinsip pengelolaan sumber daya berkelanjutan, sehingga pertumbuhan ekonomi berjalan seiring pelestarian lingkungan," kata David.
Ia menegaskan, kunci keberhasilan negara maju adalah pengembangan industri manufaktur dan diversifikasi ekonomi. Industri manufaktur meningkatkan nilai tambah komoditas melalui proses pengolahan sehingga menciptakan lapangan kerja, pendapatan daerah, pajak, dan peluang ekspor yang lebih besar.
Dengan diversifikasi, suatu negara tidak bergantung pada satu sektor saja, melainkan mengembangkan pertanian, perikanan, manufaktur, pariwisata, teknologi, dan ekonomi kreatif. Struktur ekonomi yang beragam membuat negara lebih tangguh menghadapi krisis dan fluktuasi harga komoditas dunia.
Untuk konteks Raja Ampat, David menilai pembangunan ekonomi berkelanjutan sebaiknya tidak hanya berfokus pada eksploitasi sumber daya mineral.
"Raja Ampat memiliki keunggulan yang tidak dimiliki daerah lain. Pembangunan harus memanfaatkan pariwisata kelas dunia, perikanan berkelanjutan, UMKM, ekonomi kreatif, dan industri pengolahan lokal. Pendapatan dari pemanfaatan sumber daya alam wajib diinvestasikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, infrastruktur, teknologi, serta kapasitas masyarakat lokal," tegasnya.
Dengan tata kelola yang baik, diversifikasi ekonomi, dan komitmen kuat terhadap konservasi, ia meyakini Raja Ampat dapat mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
"Manfaat pembangunan harus bisa dinikmati oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Jangan sampai kita kaya hari ini, tapi miskin di masa depan," pungkasnya.
[Redaktur: Hotbert Purba]