“Betapa menyakitkan ketika seseorang yang sebelumnya diterima dengan baik, tiba-tiba ditolak, bahkan oleh orang-orang terdekatnya. Itulah yang dialami Tuhan Yesus,” lanjut Pastor Alex.
Dalam suasana cuaca yang sempat mendung, umat tetap antusias mengikuti seluruh rangkaian ibadah.
Baca Juga:
Ketika Perempuan Menjadi Pelita di Tengah Bangsa
Perarakan daun palma berlangsung dengan tertib dan penuh penghayatan, mencerminkan semangat umat Yerusalem yang menyambut Yesus dengan sukacita.
Perayaan Minggu Palma di Fakfak juga menjadi cerminan kehidupan iman masyarakat Katolik di Papua Barat yang tetap menjaga kekhidmatan dan kebersamaan.
Tradisi membawa daun palma atau janur menjadi simbol kemenangan sekaligus kerendahan hati, meneladani Yesus yang datang bukan dengan kemewahan, melainkan dengan kesederhanaan.
Baca Juga:
Bupati Humbahas Hadiri Perayaan Paskah dan Pesta Pelindung Gereja Paroki ST Fidelis Doloksanggul
Secara liturgis, Minggu Palma diwarnai dengan pembacaan kisah sengsara Tuhan, yang mengantar umat memasuki peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah keselamatan, mulai dari pengkhianatan Yudas, Perjamuan Malam Terakhir, pergumulan di Taman Getsemani, hingga wafat Yesus di salib.
Meski demikian, Pastor Alex mengingatkan bahwa penderitaan sbukanlah akhir dari segalanya.
“Kita tidak berhenti pada sengsara. Kita menuju Paskah, menuju kebangkitan. Di situlah harapan kita sebagai umat beriman,” tegasnya.