PAPUA-BARAT.WAHANANEWS.CO, Fakfak - Umat Katolik di seluruh dunia merayakan Hari Minggu Palma pada Minggu, 29 Maret 2026, sebagai tanda dimulainya Pekan Suci, rangkaian perayaan iman menuju Hari Raya Paskah.
Perayaan ini mengenangkan peristiwa masuknya Yesus Kristus ke Kota Yerusalem yang disambut meriah oleh umat dengan daun palma dan sorak pujian.
Baca Juga:
Ketika Perempuan Menjadi Pelita di Tengah Bangsa
Di Paroki Santo Yosep Fakfak, perayaan berlangsung khidmat sejak pagi hari. Misa yang dipimpin Pastor Alex Ferbianus dimulai pukul 08.00 WIT, diawali dengan pemberkatan daun palma yang bertempat di taman doa (belakang gereja) dan perarakan umat menuju dalam gereja.
Prosesi ibadah Minggu Palma di Paroki Santo Yosep Fakfak.
Dalam khotbahnya, Pastor Alex mengajak umat untuk tidak hanya melihat kemeriahan peristiwa Minggu Palma, tetapi juga menghayati makna terdalam dari perjalanan Yesus menuju sengsara dan wafat-Nya.
Baca Juga:
Bupati Humbahas Hadiri Perayaan Paskah dan Pesta Pelindung Gereja Paroki ST Fidelis Doloksanggul
“Hari ini kita mengenangkan bagaimana Tuhan Yesus memasuki Kota Yerusalem dan disambut sebagai Raja. Namun, sambutan itu tidak berlangsung lama. Ia kemudian mengalami penolakan, penderitaan, bahkan wafat di kayu salib,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa Minggu Palma bukan sekadar perayaan kemenangan, tetapi juga pintu masuk menuju misteri penderitaan Kristus yang berpuncak pada kebangkitan-Nya.
Umat diajak untuk merenungkan perubahan sikap manusia, dari yang semula memuji menjadi menolak.
“Betapa menyakitkan ketika seseorang yang sebelumnya diterima dengan baik, tiba-tiba ditolak, bahkan oleh orang-orang terdekatnya. Itulah yang dialami Tuhan Yesus,” lanjut Pastor Alex.
Dalam suasana cuaca yang sempat mendung, umat tetap antusias mengikuti seluruh rangkaian ibadah.
Perarakan daun palma berlangsung dengan tertib dan penuh penghayatan, mencerminkan semangat umat Yerusalem yang menyambut Yesus dengan sukacita.
Perayaan Minggu Palma di Fakfak juga menjadi cerminan kehidupan iman masyarakat Katolik di Papua Barat yang tetap menjaga kekhidmatan dan kebersamaan.
Tradisi membawa daun palma atau janur menjadi simbol kemenangan sekaligus kerendahan hati, meneladani Yesus yang datang bukan dengan kemewahan, melainkan dengan kesederhanaan.
Secara liturgis, Minggu Palma diwarnai dengan pembacaan kisah sengsara Tuhan, yang mengantar umat memasuki peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah keselamatan, mulai dari pengkhianatan Yudas, Perjamuan Malam Terakhir, pergumulan di Taman Getsemani, hingga wafat Yesus di salib.
Meski demikian, Pastor Alex mengingatkan bahwa penderitaan sbukanlah akhir dari segalanya.
“Kita tidak berhenti pada sengsara. Kita menuju Paskah, menuju kebangkitan. Di situlah harapan kita sebagai umat beriman,” tegasnya.
Minggu Palma menjadi momentum refleksi bagi umat untuk memperdalam iman, sekaligus mempersiapkan diri menyambut Tri Hari Suci, Kamis Putih, Jumat Agung, dan Vigili Paskah.
Melalui perayaan ini, umat diajak untuk meneladani kasih, pengorbanan, serta kerendahan hati Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan dimulainya Pekan Suci, Gereja kembali mengingatkan bahwa jalan keselamatan tidak terlepas dari salib, namun selalu bermuara pada kemenangan kehidupan dalam kebangkitan Kristus.
[Redaktur: Hotbert Purba]