Ia juga menjelaskan bahwa nama “Sorai Waisai” berasal dari kata sorai yang berarti meriah atau gegap gempita, mencerminkan semangat dan harapan besar dalam pengabdian ini.
Bupati Raja Ampat dalam sambutannya memberikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa KKN-PPM UGM terhadap pembangunan sosial di wilayahnya.
Baca Juga:
29 Mahasiswa UGM Berangkat ke Raja Ampat, Optimalkan Sumber Daya Lokal lewat KKN-PPM 2026
Festival Sorai Waisai 2025
“Saya tahu waktunya singkat, tetapi pengaruhnya sangat besar. Semoga bayangan pengalaman ini terus membekas dan menjadi semangat baru bagi kalian. Kami siap menerima ide dan masukan dari adik-adik mahasiswa untuk melanjutkan inovasi yang telah dimulai,” tutur Bupati.
Ia juga menambahkan harapannya agar para mahasiswa hanya membawa pulang kenangan yang baik dari Raja Ampat, dan membuang hal-hal kurang menyenangkan ke laut bersama ombak.
Baca Juga:
Hanyut 2 Hari di Laut Raja Ampat, 2 Warga Diselamatkan Tim Emergency Response PT Gag Nikel
Koordinator Mahasiswa Unit, Irnandini Putri Imroatus, memaparkan capaian program kerja Tim Sorai Waisai selama masa pengabdian, yang berhasil menamatkan lebih dari 150 program kerja dari berbagai multidisiplin ilmu, melibatkan puluhan stakeholders, serta menjangkau lebih dari 5.700 partisipan dari empat kelurahan, yaitu Waisai Kota, Saporodanco, Warmasen, dan Bonkawir.
Festival Sorai Waisai juga dimeriahkan dengan penampilan seni budaya dari Sanggar Mbilin Kayam yang membawakan tarian bertema biota laut Raja Ampat dan narasi kebudayaan lokal.
Tayangan dokumenter bertajuk Uncover Behind Waisai turut diputar, menampilkan potret kehidupan masyarakat, interaksi mahasiswa, dan semangat kolaboratif di lapangan.