PAPUA-BARAT.WAHANANEWS.CO, Raja Ampat - Pulau Arborek, ikon pariwisata berkelanjutan dunia, akan menjadi panggung sejarah baru. Pada 21-22 Agustus 2026, Jumpa Akbar Masyarakat Adat Raja Ampat akan digelar sebagai puncak perjuangan kedaulatan masyarakat adat atas tanah, laut, dan masa depan.
Jumpa akbar ini bukan acara seremonial semata. Kegiatan ini merupakan puncak dari proses panjang dan partisipatif melalui tiga kali Gelar Senat Adat: Gelar Senat I pada Oktober 2025, Gelar Senat II pada Juni 2026, dan Gelar Senat III pada Juli 2026 yang telah merumuskan naskah deklarasi bersama.
Baca Juga:
Belajar dari Venezuela hingga Swedia, Pakar Pariwisata UF Ingatkan Raja Ampat Hindari Kutukan Sumber Daya Alam
Puncak Konsolidasi Adat Raja Ampat
Acara ini diselenggarakan melalui kolaborasi Institut USBA dan Greenpeace Indonesia sebagai pelaksana, bersama masyarakat adat sebagai subjek utama.
Deklarasi di Arborek akan menjadi momentum pengakuan dan penegasan kembali hak-hak masyarakat adat Raja Ampat di tengah ancaman krisis iklim, eksploitasi sumber daya, dan ketimpangan pembangunan.
Baca Juga:
Waisai Semrawut, Saat Estetika Ibu Kota Surga Dunia Tergadai di Bahu Jalan
Lebih dari 200 Peserta Hadir
Lebih dari 200 peserta akan hadir langsung di Pulau Arborek. Peserta terdiri dari dua kelompok utama:
1. Pemegang Mandat Adat: 20 Kepala Sub Suku Raja Ampat yang merepresentasikan dua rumpun besar suku asli Raja Ampat.
- Suku Biak : 5 Sub Suku
- Suku Maya/Ma'ya : 15 Sub Suku
Kehadiran 20 kepala sub suku ini menjadikan deklarasi sah secara adat dan mengikat secara kultural.
2. Jaringan Solidaritas : Perwakilan LSM lokal Papua dan nasional, akademisi, praktisi hukum adat dan lingkungan, serta dukungan dari berbagai NGO nasional dan internasional yang fokus pada isu keadilan iklim dan hak masyarakat adat.
Kolaborasi Institut USBA dan Greenpeace Indonesia dalam jumpa akbar ini merupakan upaya memastikan ilmu pengetahuan dan advokasi global berdiri di belakang kedaulatan masyarakat adat sebagai garda terdepan penjaga iklim.
Jumpa Akbar Masyarakat Adat di Arborek terbuka untuk peliputan media nasional dan internasional.
[Redaktur: Hotbert Purba]