PAPUA-BARAT.WAHANANEWS.CO, Kota Sorong – Aksi demonstrasi mama-mama pedagang Papua di Kota Sorong memasuki hari ketiga pada Jumat, 3 Juli 2026. Hingga pukul 03.08 WIT, para peserta masih bertahan di ruas Jalan Basuki Rahmat, tepatnya di Lampu Merah Elim depan Terminal Remu, dengan melakukan blokade jalan.
Puluhan peserta menggelar terpal dan karpet di badan jalan untuk beristirahat. Sejumlah pemuda bergiliran berjaga mengamankan area aksi.
Baca Juga:
BPS RI: Penduduk Miskin di Provinsi Papua Barat Daya Capai 103 Ribu Jiwa
Tuntut Transparansi Dana Otsus Rp10,125 Miliar
Aksi ini merupakan kelanjutan demonstrasi yang dimulai sejak Rabu, 1 Juli 2026 di Kantor Gubernur Papua Barat Daya. Massa yang terdiri atas pedagang dari berbagai kabupaten/kota di Papua Barat Daya menuntut transparansi dana Otonomi Khusus (Otsus), khususnya realisasi bantuan modal usaha senilai Rp10,125 miliar bagi pelaku UMKM Orang Asli Papua (OAP).
Massa memulai long march dari Taman DEO Kota Sorong, Rabu pukul 09.00 WIT, dan tiba di Kantor Gubernur sekitar pukul 14.00 WIT. Mereka bertahan di halaman kantor gubernur hingga Kamis sore, 2 Juli 2026. Karena belum mendapat tanggapan langsung, massa kemudian bergeser ke Lampu Merah Elim Remu dan menggelar mimbar bebas.
Baca Juga:
Momen Hari Kartini, Wapres Gibran Berikan Voucher Belanja kepada Mama Papua di Saga Supermarket Sorong
Dalam orasinya, para pedagang mempersoalkan data penerima bantuan modal. Mereka menyebut hanya 494 mama-mama Papua yang dinilai sah masuk data, dari total 2.448 penerima bantuan modal.
Tuntut Pertemuan Langsung dengan Gubernur
Pendamping aksi dari Perkumpulan Perempuan dan Masyarakat Peduli Kesejahteraan Sosial (P2MPKS), Yohanis Mambrasar, mengatakan massa akan terus bertahan hingga mendapat respons dari Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu.
"Mama-mama pedagang Papua masih melakukan aksi demonstrasi hingga pukul 03.08 WIT. Massa telah berpindah dari Kantor Gubernur ke Lampu Merah Elim Remu, melakukan blokade jalan dan bertahan dengan tidur di atas aspal. Aksi ini bertujuan mendorong Gubernur membuat kebijakan dukungan modal usaha dan penyediaan tempat berjualan yang baik bagi mama-mama pedagang Papua," kata Yohanis, Jumat dini hari.
Salah seorang peserta aksi menyatakan kecewa karena hingga hari ketiga Gubernur belum menemui massa secara langsung. "Kami aksi di kantor gubernur hingga bermalam pun gubernur tidak menemui kami untuk menerima aspirasi secara langsung. Karena itu kami bergeser memblokir jalan raya supaya Elisa Kambu bisa melihat dan menerima aspirasi kami," ujarnya.
Desak Kebijakan Berpihak pada OAP
Para demonstran mendesak Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya segera menetapkan kebijakan yang berpihak kepada mama-mama pedagang Papua. Tuntutan itu meliputi dukungan modal usaha, penyediaan lokasi berjualan yang layak, serta program pemberdayaan ekonomi OAP sesuai semangat Otsus.
Massa menegaskan perjuangan mereka tidak hanya untuk pedagang, tetapi juga menyangkut pemberdayaan ekonomi masyarakat asli Papua yang harus menjadi perhatian pemerintah daerah.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan kelelahan setelah tiga hari bertahan, para peserta menyatakan akan tetap bertahan hingga memperoleh kepastian dan jawaban langsung dari Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya.
Aksi masih berlangsung sampai dini hari. Belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya terkait tuntutan para pedagang maupun langkah yang akan ditempuh untuk merespons aksi tersebut.
[Redaktur: Hotbert Purba]