PAPUA-BARAT.WAHANANEWS.CO, Yogyakarta – Dari ruang kuliah di Yogyakarta menuju pesisir timur Indonesia, 29 mahasiswa Universitas Gadjah Mada bersiap menjalankan misi pengabdian melalui program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat KKN-PPM Tahun 2026.
Selama kurang lebih 50 hari ke depan, mereka akan berkarya bersama masyarakat di Distrik Kota Waisai, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya. Fokusnya mendukung pembangunan berkelanjutan berbasis potensi lokal.
Baca Juga:
Direktur PLN Suroso Isnandar Terpilih Jadi Anggota MWA UGM Periode 2026–2031
Kehadiran mahasiswa di Waisai bukan sekadar agenda akademik, melainkan wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menempatkan masyarakat sebagai mitra dalam pembelajaran dan pembangunan.
Mengusung tema “Optimalisasi Sumber Daya Lokal melalui Pendekatan Sustainable Livelihoods Berbasis Blue Governance guna Mewujudkan Keseimbangan Ekosistem, Pangan, dan Ekonomi, serta Kesejahteraan Masyarakat di Distrik Waisai, Kabupaten Raja Ampat”, tim KKN Sorai Waisai 2026 menghadirkan program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan karakteristik wilayah.
Sebagai pintu gerbang Kabupaten Raja Ampat, Waisai memiliki posisi strategis untuk mendukung aktivitas sosial dan ekonomi. Potensi sektor pariwisata, perikanan, lingkungan, serta kekayaan budaya menjadi modal penting mendorong pembangunan daerah. Pemanfaatannya memerlukan tata kelola baik, penguatan kapasitas masyarakat, dan kolaborasi berkelanjutan antar pihak.
Baca Juga:
Perkuat Sinergi Energi dan Kampus Masa Depan, Direktur PLN Suroso Isnandar Terpilih Jadi Anggota MWA UGM Periode 2026–2031
Untuk menjawab tantangan tersebut, mahasiswa akan melaksanakan berbagai program di empat kelurahan: Bonwakir, Sapordanco, Waisai Kota, dan Warmasen.
Kegiatan mencakup pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi lokal, edukasi lingkungan, pengembangan kapasitas generasi muda, promosi potensi daerah, hingga pendampingan program-program pembangunan berkelanjutan. Seluruh kegiatan disusun dengan pendekatan partisipatif, melibatkan masyarakat dan pemerintah setempat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan.
Bagi mahasiswa, KKN bukan hanya menjalankan program kerja, tetapi juga memahami kehidupan masyarakat lebih dekat. Pengalaman hidup dan bekerja bersama masyarakat menjadi kesempatan belajar nilai gotong royong, kearifan lokal, serta tantangan dan peluang pembangunan di daerah.
Koordinator Mahasiswa Unit Tim Sorai Waisai 2026 Ihza Wijaya menilai kegiatan ini kesempatan belajar langsung dari masyarakat sekaligus meninggalkan jejak pengabdian.
“Bagi kami, KKN bukan sekadar program pengabdian, melainkan ruang untuk saling belajar. Kami berharap dapat berjalan bersama masyarakat Waisai, menghargai kearifan lokal, dan meninggalkan jejak yang dapat dilanjutkan masyarakat sekitar,” ujarnya.
Menjelang keberangkatan, tim KKN Sorai Waisai 2026 telah melakukan berbagai persiapan, termasuk koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat dan sejumlah pemangku kepentingan. Komunikasi yang terbangun diharapkan mendukung kelancaran program sekaligus memperkuat sinergi perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam pembangunan daerah.
Perjalanan dari Yogyakarta menuju Raja Ampat bukan sekadar perpindahan jarak geografis, tetapi juga perjalanan membawa ilmu pengetahuan lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui KKN-PPM 2026, Universitas Gadjah Mada kembali menegaskan komitmennya untuk terus hadir, belajar bersama masyarakat, dan berkontribusi dalam pembangunan Indonesia dari berbagai penjuru negeri.
[Redaktur: Hotbert Purba]