Dalam doa dan pesannya, Uskup Hilarion juga menegaskan pentingnya menjaga kebebasan dan toleransi hidup beragama, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.
“Gereja berdoa agar setiap orang dapat hidup dalam damai, saling menghormati, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan tanpa memandang latar belakang agama,” ujarnya.
Baca Juga:
Ribuan Umat Kristen Padati Kuburan Umum Pinangsori, Tapanuli Tengah, Rayakan Jumat Agung
Menurutnya, sebagai bangsa yang majemuk, Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk terus merawat harmoni sosial. Toleransi tidak boleh berhenti pada slogan, tetapi harus diwujudkan dalam sikap hidup sehari-hari.
Rangkaian ibadat berlanjut dengan penerimaan Komuni Suci dari Sakramen Mahakudus yang telah dikonsekrasi pada Misa Kamis Putih. Sebelumnya, Sakramen tersebut diarak kembali dari Taman Doa menuju altar dalam suasana hening dan penuh penghormatan.
Prosesi ini memiliki makna mendalam. Pada malam Kamis Putih, Sakramen Mahakudus dipindahkan ke Taman Doa sebagai lambang Yesus yang pergi ke Taman Getsemani untuk berdoa sebelum mengalami sengsara. Umat pun turut ambil bagian dalam doa tuguran sebagai ungkapan berjaga bersama Tuhan.
Baca Juga:
Polri Kawal Keamanan Jelang Paskah
Perayaan Jumat Agung ditutup tanpa berkat penutup, dalam suasana hening yang panjang. Gereja seakan “berdiam diri” dalam duka, menantikan misteri kebangkitan yang akan dirayakan dalam Paskah.
Keheningan ini bukanlah kekosongan, melainkan ruang permenungan yang dalam. Dari salib, umat belajar bahwa penderitaan bukanlah akhir, melainkan jalan menuju kebangkitan. Salib yang dahulu menjadi lambang kehinaan, kini menjadi tanda kemenangan kasih dan sumber harapan bagi umat beriman.
Melalui perayaan ini, umat Katolik di Paroki Santo Yosep Fakfak diajak untuk semakin menyadari besarnya kasih Allah, sekaligus memperbarui komitmen hidup sebagai pengikut Kristus, hidup dalam kasih, pengorbanan, dan pengharapan.