Melalui Sabda tersebut, umat diajak merenungkan kasih Allah yang tak terbatas, kasih yang rela menderita dan berkorban demi menebus dosa manusia. Suasana gereja yang hening semakin memperdalam pengalaman iman umat, seolah membawa mereka hadir langsung di kaki salib.
Dalam doa, Mgr. Hilarion Datus Lega menegaskan bahwa Jumat Agung bukan sekadar peringatan liturgis, tetapi panggilan untuk menghidupi kasih Kristus secara nyata.
Baca Juga:
Ribuan Umat Kristen Padati Kuburan Umum Pinangsori, Tapanuli Tengah, Rayakan Jumat Agung
“Jumat Agung bukan hanya mengenang penderitaan dan wafat Tuhan, tetapi menjadi momentum untuk meneladani kasih-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Kasih itu nyata dalam sikap pengampunan, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama,” ungkap Uskup Hilarion.
Ia juga mengajak umat untuk berani memikul “salib” kehidupan masing-masing dengan iman dan pengharapan, seraya percaya bahwa di balik penderitaan selalu ada rencana keselamatan Allah.
Baca Juga:
Polri Kawal Keamanan Jelang Paskah
Salah satu momen yang paling menyentuh dalam perayaan ini adalah penghormatan salib. Salib diarak ke depan altar, lalu diperlihatkan kepada umat dengan seruan, “Lihatlah kayu salib, di sini tergantung Kristus, Penyelamat dunia". Seruan ini menggema dalam keheningan, mengundang umat untuk memandang salib bukan sekadar simbol penderitaan, tetapi tanda kasih yang menyelamatkan.
Secara bergantian, umat maju untuk memberikan penghormatan, dengan mencium salib, berlutut, atau membungkukkan badan. Tindakan ini bukan sekadar ritual, melainkan ungkapan iman yang mendalam, tanda kasih, syukur, sekaligus penyesalan atas dosa.
Perayaan kemudian dilanjutkan dengan Doa Umat Meriah, yang menjadi ciri khas Jumat Agung. Dalam doa ini, Gereja mengangkat berbagai intensi universal, mulai dari Gereja sendiri, para pemimpin bangsa, hingga seluruh umat manusia.