PAPUA-BARAT.WAHANANEWS.CO, Fakfak - Pemerintah Kabupaten Fakfak melalui Dinas Perkebunan terus berupaya memperkuat posisi pala sebagai komoditas unggulan daerah yang memiliki nilai ekonomi tinggi bagi masyarakat.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah melalui kegiatan sosialisasi dan sekaligus penyusunan Penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) Pala Tomandin Fakfak sebagai upaya meningkatkan mutu, daya saing, serta standar kualitas pala yang dihasilkan oleh para petani pekebun pala di Kabupaten Fakfak.
Baca Juga:
Bareskrim Gerebek Meja Goyang Timah Ilegal, 16 Ton Pasir Timah Sempat Diselundupkan
Kegiatan sosialisasi bertempat di Dinas Perkebunan Fakfak di buka oleh Kepala Dinas Perkebunan Fakfak mewakili Bupati Fakfak dan diikuti oleh 45 peserta perwakilan dari petani pekebun pala, kelompok tani, pelaku pengumpul dan pengepul pala serta masyarakat perlindungan indikasi geografis pala Tomandin Fakfak yang menjadi bagian penting dalam rantai produksi dan perdagangan pala di daerah tersebut
Dalam kegiatan ini, para peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya penerapan standar mutu pala mulai dari proses panen, penanganan pascapanen, pengeringan, hingga proses sortasi dan pemasaran agar menghasilkan produk pala yang berkualitas dan memiliki nilai jual yang tinggi.
Disampaikan oleh Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST, MT saat membuka acara bahwa telah lama Fakfak di kenal sebagai salah satu daerah penghasil pala lonjong yang berbeda dengan wilayah lain di Indonesia dan memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif.
Baca Juga:
Sinergi TNI–Kejaksaan, Danrem 042/Gapu Silaturahmi ke Kejati Jambi
Pala Fakfak memiliki aroma khas, bentuk biji yang baik, serta kandungan minyak atsiri yang tinggi sehingga sangat diminati di pasar rempah nasional maupun internasional.
Keunggulan inilah yang kemudian diperkuat melalui branding Pala Tomandin Fakfak sebagai identitas komoditas unggulan daerah yang terus dijaga kualitas dan reputasinya.
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST, MT, menegaskan pula bahwa penerapan standar mutu melalui SNI menjadi langkah penting dalam menjaga kualitas pala Fakfak sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar terhadap komoditas tersebut.
“Melalui sosialisasi ini kami ingin memastikan bahwa para petani dan pelaku usaha memahami pentingnya standar mutu pala. Dengan penerapan SNI, kualitas pala Fakfak akan lebih terjamin, memiliki klasifikasi mutu yang jelas, serta mampu meningkatkan daya saing di pasar nasional maupun internasional," kata Widhi dikutip Kamis.
Lanjut dia, peserta di saat sosialisasi ini juga menyusun draft cara tepat mengolah pala Tomandin Fakfak sebagai kunci meningkatkan mutu dan kuatas nilai jual pala yang akan menjadi pedoman dalam pengolahan pala pasca panen.
Beberapa paradigma perubahan dalam pengolahan kekinian untuk memenuhi kualitas permintaan pasar antara lain mulai dari cara memetik pala, proses curah, sortasi biji pala dengan fuli, sistem pengiriman dan pengasapan yang sedikit berbeda di banding dengan kebiasaan yang sudah.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan sosialisasi ini juga menjadi bagian penting dalam menghadapi musim panen pala Timur dan Pala Barat tahun 2026 yang berlangsung sesuai dengan kalender musim panen pala di Kabupaten Fakfak.
Memasuki periode panen tersebut, produksi pala biasanya meningkat cukup signifikan sehingga diperlukan kesiapan dari para petani pekebun pala untuk menjaga kualitas hasil panennya.
Menurutnya, salah satu tantangan yang masih sering terjadi di lapangan adalah pemanenan pala yang dilakukan sebelum buah benar-benar matang. Hal tersebut dapat berdampak pada kualitas biji pala, kadar minyak atsiri, serta standar mutu yang dibutuhkan oleh pasar.
“Melalui kegiatan ini kami juga mengingatkan para petani agar memanen pala sesuai dengan kalender musim panen yang telah dikenal Masyarakat," terangnya.
Ia juga berharap para petani maupun pelaku usaha dapat menahan diri agar tidak tergiur membeli atau menjual pala yang dipetik sebelum waktunya. Praktik tersebut tidak hanya merusak kualitas pala Fakfak, tetapi juga dapat merugikan para pemilik kebun pala.
“Pala yang dipetik dan dijual sebelum waktunya sering kali bukan berasal dari kebun milik sendiri. Karena itu kami berharap semua pihak dapat menahan diri dan tidak tergiur dengan praktik seperti itu. Membeli atau menjual pala yang dipetik sebelum waktunya sama saja dengan membantu orang yang bukan punya pala,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa disiplin dalam mengikuti waktu panen menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga reputasi pala Fakfak sebagai pala berkualitas. Selain itu, penanganan pascapanen yang baik seperti proses pengeringan, sortasi, dan penyimpanan yang tepat juga sangat menentukan mutu akhir produk.
“Jika pala dipanen pada waktu yang tepat dan ditangani dengan standar yang baik, maka kualitasnya akan lebih terjaga, aroma dan kandungan minyak atsirinya tetap optimal, serta harga jualnya akan lebih baik. Hal ini tentu akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani pekebun pala sekaligus memberikan kepastian usaha bagi para pelaku usaha pala,” urainya.
Sementara narasumber yang dipercayakan oleh PT. Papua Global Spices, Hans Sahupala yang hadir dengan berbagai metode dan testimoni menyatakan bahwa perlunya petani dan pelaku usaha semakin memahami pentingnya menjaga kualitas produksi pala sejak dari kebun hingga proses pemasaran.
Dengan cara pengolahan yang benar sesuai dengan SOP di jamin harga pala akan semakin membaik dan meningkat sehingga perlu adanya penanganan pascapanen yang tepat untuk terus mempertahankan reputasinya sebagai rempah unggulan daerah yang mampu bersaing di pasar nasional maupun global.
Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen petani dan pelaku uasaha dalam menjaga keberlanjutan komoditas pala sebagai sumber ekonomi masyarakat Fakfak.
Ke depan, pala diharapkan tidak hanya dikenal sebagai bagian dari sejarah dan identitas daerah, tetapi juga menjadi kekuatan ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani pekebun pala di Fakfak serta seluruh pelaku usaha yang terlibat dalam rantai perdagangan pala.
Akhir dari kegiatan ini dihasilkan kesepakatan prosedur pengolahan Pala Tomandin yang berfungsi sebagai media edukasi dan panduan praktis bagi petani, pengumpul, serta pelaku usaha pala dalam menerapkan cara panen dan pengolahan pala yang baik dan benar, mulai dari tahap panen, pemisahan, pengeringan hingga penyimpanan serta kesepakatan harga yang layak dan adil kepada masyarakat petani pekebun pala, sehingga peningkatan nilai jual pala dapat memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan petani pekebun pala.
[Redaktur: Hotbert Purba]