"Pagi hari masyarakat desa memulai aktivitas bukan dengan kecemasan terhadap kurs dolar atau harga komoditas dunia. Tetapi dengan keyakinan bahwa kebutuhan dasar keluarga mereka tersedia di sekitar lingkungan sendiri. Karbohidrat tidak semata bergantung pada beras impor atau gandum impor, melainkan berasal dari singkong, talas, ubi jalar, suweg, sagu, jagung, dan berbagai umbi lokal yang secara gizi bahkan memiliki kandungan serat, mineral, dan indeks glikemik yang lebih baik untuk kesehatan," ujarnya.
Diungkapkan Darmizal, protein diperoleh dari kolam ikan desa, ternak ayam kampung, telur, kacang-kacangan, dan hasil pertanian lokal. Bahkan, pekarangan rumah menjadi sumber pangan keluarga.
Baca Juga:
Darmizal Apresiasi Kehangatan Jokowi Terima 9 Ketua Ormas
"Cabai, tomat, daun kelor, pisang, pepaya, hingga rempah-rempah tumbuh di halaman sendiri," jelasnya.
Alumni UGM Yogyakarta ini menambahkan, minyak goreng tidak harus selalu tergantung dari rantai industri besar. Desa-desa pesisir dan tropis Indonesia memiliki pohon kelapa yang dapat menghasilkan minyak kelapa tradisional yang sehat dan bernilai ekonomi tinggi.
"Gula tidak harus selalu bergantung pada gula rafinasi impor karena Indonesia memiliki aren dan kelapa yang mampu menghasilkan gula alami berkualitas tinggi sekaligus membuka lapangan kerja rakyat," tegasnya.
Baca Juga:
Restorative Justice untuk Rismon Dianggap Sesuai Semangat Undang-undang KUHP
Masih menurut Darmizal, air tersedia dari sumber alam yang dijaga bersama. Energi dapat dikembangkan dari mikrohidro, biogas, tenaga surya, atau limbah pertanian. Sampah organik kembali menjadi pupuk. Desa tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen.
"Ditengah kondisi global yang bergejolak, masyarakat seperti ini justru lebih tahan terhadap tekanan atau turbulensi global. Mereka tidak mudah panik oleh perang dagang, konflik geopolitik, atau pelemahan nilai tukar karena sebagian besar kebutuhan hidupnya tidak sepenuhnya bergantung pada barang impor," kata Darmizal.
Darmizal mengungkapkan, masyarakat yang kuat bukan masyarakat yang seluruh hidupnya tergantung pada produk luar negeri dan mata uang asing. Akan tetapi masyarakat yang mampu memanfaatkan sumber dayanya sendiri dengan kreativitas dan ilmu pengetahuan.