PAPUA-BARAT.WAHANANEWS.CO, Teluk Wondama – Kapolda Papua Barat Irjen Pol Alfred Papare menghadiri sekaligus memberikan sambutan pada pembukaan Pleno XIX Dewan Adat Papua Se-Tanah Papua di Gedung Sasana Karya Pemda Teluk Wondama, Selasa 19 Mei 2026 siang.
Pleno kali ini mengusung tema “Konsolidasi Kelembagaan dan Advokasi Hak-Hak Dasar Masyarakat Adat Papua dalam Konteks Sosial Politik Kekinian di Tanah Papua.”
Baca Juga:
Polda Papua Barat Gelar Operasional Triwulan I 2026, Evaluasi Kamtibmas dan Laka Lantas
Kegiatan dihadiri Asisten II Setda Provinsi Papua Barat mewakili Gubernur Papua Barat, Bupati Teluk Wondama Elsya Auri, Ketua Umum Dewan Adat Papua Adrian Worengga, serta seluruh peserta Pleno XIX.
Dalam sambutannya, Kapolda menegaskan bahwa pleno memiliki arti penting sebagai wadah pimpinan adat untuk mengevaluasi kerja, membahas kepentingan adat, dan menentukan arah kebijakan ke depan.
“Bagi masyarakat Papua, adat bukan hanya sekadar simbol. Adat merupakan pijakan hidup, sumber wibawa, dan tempat masyarakat mencari solusi ketika menghadapi suatu permasalahan. Keamanan tidak dapat berdiri sendiri. Situasi yang aman dan kondusif akan lebih mudah terjaga apabila terdapat kepercayaan, komunikasi yang baik, serta peran tokoh-tokoh yang didengar oleh masyarakat,” ujar Irjen Pol Alfred Papare.
Baca Juga:
Polda Papua Barat Lakukan Penangkaran Benih Jagung Petani Milenial OAP
Kapolda menyebut tokoh adat dan lembaga adat memiliki posisi strategis dalam menjaga ketenteraman masyarakat. Polda Papua Barat memandang Dewan Adat Papua sebagai mitra penting dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban.
“Polda Papua Barat dan Polres Teluk Wondama yang didukung unsur TNI dan Pemerintah Daerah berkomitmen mengawal seluruh rangkaian kegiatan agar berjalan aman, tertib, dan lancar dengan tetap menghormati nilai-nilai adat. Kehadiran Polri untuk memastikan ruang adat ini berjalan aman dan bermartabat,” katanya.
Ia mengajak seluruh peserta menjaga suasana pleno tetap tenang dan kondusif. “Sampaikan pandangan dengan baik, sampaikan perbedaan dengan cara yang bermartabat. Musyawarah harus tetap menjadi jalan utama. Jangan memberi ruang bagi provokasi, penyebaran informasi yang tidak benar, ujaran kebencian, maupun tindakan lain yang dapat mengganggu ketertiban umum,” tutup Kapolda.
Untuk pengamanan, sebanyak 267 personel Polri diterjunkan. Rinciannya 207 personel Polres Teluk Wondama, 30 personel Satbrimob Polda Papua Barat, dan 30 personel Polda Papua Barat. Personel ditempatkan di titik strategis meliputi Pos Yan Bandara, Pelabuhan, Taman Masasoya, Manggurai, Perempatan Pemda, Satpol PP Pemda, serta penginapan tamu.
Plt Kabid Humas Polda Papua Barat Kombes Pol Gadug Kurniawan menyampaikan pengamanan telah dipersiapkan melalui koordinasi lintas sektor bersama TNI, Pemerintah Daerah, dan panitia.
“Pengamanan ini merupakan bentuk komitmen Polda Papua Barat dalam menjamin seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung aman, tertib, dan lancar. Kami menempatkan personel pada sejumlah titik strategis untuk memastikan situasi tetap kondusif,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan pengamanan mengedepankan prinsip humanis dengan tetap menghormati nilai budaya dan adat istiadat masyarakat Papua.
[Redaktur: Hotbert Purba]