PAPUA-BARAT.WAHANANEWS.CO, Jakarta – Dalam rangka mendukung konektivitas udara nasional, menjaga daya saing industri penerbangan, serta memastikan keberlanjutan penyediaan energi sektor transportasi udara, PT Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga Avtur domestik. Penurunan berlaku efektif mulai 1 Juni 2026.
Penyesuaian harga dilakukan dengan penurunan hingga sekitar 10 persen di bandar udara seluruh Indonesia. Hal ini seiring dinamika harga energi global beberapa waktu terakhir.
Baca Juga:
Larangan Pertalite untuk Kendaraan Merk Tertentu per 1 Juni 2026 Tidak Benar
Secara rata-rata nasional, harga Avtur Juni 2026 turun hingga 10 persen dibanding periode Mei 2026. Sebagai contoh, harga Avtur di Aviation Fuel Terminal AFT Soekarno-Hatta CGK turun dari Rp24.580 per liter menjadi Rp22.190 per liter.
Sementara itu, harga Avtur di AFT Ngurah Rai DPS turun dari Rp26.190 per liter menjadi Rp23.480 per liter. Di AFT Kualanamu KNO turun dari Rp25.720 per liter menjadi Rp23.090 per liter. Besaran penurunan di setiap bandara bervariasi sesuai formula yang berlaku serta mempertimbangkan faktor distribusi dan logistik.
Penyesuaian harga Avtur dilakukan secara berkala setiap bulan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Perhitungannya mengacu pada rata-rata harga publikasi internasional dalam satu periode dengan referensi utama Mean of Platts Singapore MOPS Kerosene/Jet sebagai benchmark kawasan.
Baca Juga:
Heboh Informasi Larangan Kendaraan Isi Pertalite 1 Juni, Pertamina Angkat Suara
Sepanjang Mei 2026, harga energi global menunjukkan tren penurunan yang kemudian terefleksikan pada harga Avtur periode Juni 2026.
Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Roberth MV. Dumatubun mengatakan, penyesuaian harga tersebut merupakan bagian dari mekanisme transparan dan mengikuti dinamika pasar energi global.
“Penyesuaian harga Avtur ini dilakukan dengan mengacu pada formula yang ditetapkan regulator, dalam hal ini Kementerian ESDM, serta mempertimbangkan perkembangan harga energi global. Ketika harga energi global bergerak turun, maka penyesuaian tersebut akan terefleksikan pada harga Avtur sesuai mekanisme yang berlaku,” ujar Roberth, Minggu 31 Mei 2026.
Lebih lanjut Roberth menjelaskan, kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya Pertamina Patra Niaga menjaga keseimbangan antara aspek komersial, keberlanjutan pasokan, dan keandalan layanan kepada seluruh pengguna jasa aviasi.
“Penyesuaian harga ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap aktivitas penerbangan domestik, mendukung pengembangan pariwisata nasional, meningkatkan konektivitas antarwilayah, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan harga yang lebih kompetitif, diharapkan industri penerbangan dapat terus tumbuh dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” lanjutnya.
Untuk segmen penerbangan internasional, harga avtur mengikuti perkembangan pasar dan tingkat kompetisi di kawasan regional guna menjaga daya saing nasional. Pemenuhan kebutuhan penerbangan domestik tetap menjadi prioritas dalam pengelolaan pasokan energi penerbangan.
Saat ini Pertamina Patra Niaga melayani kebutuhan Avtur nasional melalui 72 Aviation Fuel Terminal AFT yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, termasuk bandara utama strategis maupun bandara perintis.
“Pertamina Patra Niaga memastikan pasokan Avtur tetap dalam kondisi aman dan andal di seluruh jaringan Aviation Fuel Terminal guna mendukung kelancaran operasional penerbangan domestik maupun internasional,” pungkas Roberth.
Ke depan, Pertamina Patra Niaga akan terus memantau perkembangan pasar energi global dan berkoordinasi dengan pemerintah guna memastikan layanan energi penerbangan yang andal, kompetitif, dan berkelanjutan dalam mendukung konektivitas udara nasional.
[Redaktur: Hotbert Purba]