PAPUA-BARAT.WAHANANEWS.CO, Raja Ampat - Kejadian menegangkan melanda kawasan perairan sekitar Pasir Timbul, salah satu tujuan wisata unggulan di Kepulauan Kri, Selasa sore, 5 April lalu.
Sebuah kapal yang sebelumnya telah dibakar dan ternyata tidak bisa tenggelam, hanyut terbawa arus yang sangat kuat menuju lokasi wisata yang sangat ramai dan memiliki nilai lingkungan tinggi itu. Jika tidak segera ditangani, benda berbahaya ini berisiko tinggi kandas, merusak pemandangan, menghancurkan ekosistem, sekaligus membahayakan keselamatan pengunjung yang sedang berkunjung di sana.
Baca Juga:
Bermon Sauyai: Aturan Jelas, Dana Tersedia, Tapi Bangkai Kapal Tetap Dibiarkan Merusak Ekosistem
Menurut keterangan Tom, Pemilik Yenatar Resort, peristiwa ini bermula tepat pukul 4 sore, ketika kapal bekas yang masih terus mengeluarkan asap itu bergerak cepat didorong arus laut yang deras dan langsung mengarah ke kawasan Pasir Timbul.
Di tengah situasi yang sempat menimbulkan kegemparan, di mana banyak pihak hanya sibuk mengeluarkan pendapat dan berdebat tanpa melakukan tindakan nyata, tim kerja Yenatar Resort yang dipimpin langsung oleh Tom, justru bergerak cepat menuju lokasi untuk mengatasi masalah itu.
Tanpa menunggu perintah atau bantuan dari pihak lain, tim ini segera mendekati kapal yang masih berasap itu, lalu mulai menariknya perlahan namun pasti, dengan tujuan utama memindahkannya keluar dari jalur lintasan dan menjauh dari kawasan Pasir Timbul yang sangat rawan.
Baca Juga:
Dibiarkan Melayang Berhari-hari, Bangkai Kapal di Meosmansuar: Bukti Lemahnya Tanggung Jawab dan Pengawasan Wilayah
Usaha keras ini terus dijalankan selama kurang lebih 40 menit lamanya sendirian, hingga akhirnya bantuan datang dari pihak Terima Kasih Homestay dan Warahnus Homestay untuk bergotong-royong menyelesaikan tugas berat tersebut.
Bersama-sama, para petugas terus mengerahkan tenaga untuk memindahkan kapal itu sejauh mungkin dari titik yang berbahaya. Akhirnya, kapal berhasil ditarik hingga berada di posisi tengah antara Pasir Timbul dan Meoskun, di lokasi yang aman dan tidak mengganggu aktivitas siapa pun, sebelum akhirnya tali penarik dilepaskan dan kapal dibiarkan hanyut di tempat yang sudah aman itu.
Tepat pukul 6 sore, seluruh anggota tim kembali ke tempat asalnya dengan selamat, dan tugas pengamanan dianggap selesai sepenuhnya.
Tom kemudian melontarkan pertanyaan yang menyentuh hati sekaligus teguran bagi seluruh pihak terkait. "Coba bayangkan apa yang akan terjadi seandainya kapal ini sampai kandas dan menabrak kawasan Pasir Timbul? Kerusakan yang ditimbulkan pasti sangat parah, dan dampaknya akan dirasakan oleh semua pihak, baik dari segi ekonomi maupun kelestarian alam," ujarnya.
Hal yang membuatnya lebih prihatin dan kecewa adalah kenyataan pahit yang dialaminya saat sedang berjuang mengatasi masalah tersebut. Ia menegaskan, sepanjang proses penanganan yang berlangsung cukup lama itu, tidak ada satu pun kapal atau petugas dari tempat penginapan dan tempat menginap lainnya di sepanjang wilayah Kri yang turun tangan memberikan bantuan, padahal jarak lokasi kapal berada hanya sekitar 500 meter dari tempat mereka berada dan beroperasi setiap hari.
"Semua melihat dan tahu apa yang sedang terjadi, namun hanya diam dan membiarkan kami bekerja sendiri sampai bantuan dari tempat yang agak jauh baru akhirnya datang," tambahnya.
Kejadian ini kembali menegaskan betapa lemahnya rasa tanggung jawab bersama dan kepedulian sesama pengelola wisata dalam menjaga keselamatan serta keamanan wilayah yang sama-sama diandalkan sebagai sumber penghidupan seluruh masyarakat setempat.
[Redaktur: Hotbert Purba]